Jakarta–Detakpos-Menteri Keuangan Sri Mulyani harus jujur terkait akibat nilai kurs rupia tembus Rp 15 ribu / dolar AS. Bahkan diprediksi bisa merangkak naik ke level Rp 16 ribu.
“Dan pontensi “tsunami” ekonomi sudah di depan mata,”ungkap Wakil Ketua Umum DPP Partai Grerindra Arief Poyuono dalam siaran pers yang diterima, Rabu, (3/10).
Dia minta jangan beralasan nilai kurs dolar AS yang sudah melewati angka Rp 15 ribu merupakan kurs terburuk sejak 20 tahun pascakrisis ekonomi 1998 , bahwa keadaan ekonomi nasional baik baik saja karena data nilai inflasi yang masih bisa terkendali dan ekonomi bertumbuh di semester dua pada angka 5.27 persen.
“Ingat Indonesia sekarang importir Crude Oil dan BBM sehingga naiknya harga minyak mentah 85 dolar AS/ barrel bisa menggerus nilai kurs rupiah.
Apalagi diprediksi oleh para pengamat, minyak dunia akan bisa sampai level 100 dolar AS/barrel, artinya beban impor kebutuhan dolar AS meningkat dan harga BBM akan naik sehingga inflasi bisa naik cepat.
Ditambah lagi keperluan belanja barang barang untuk rehabilitasi daerah terkena gempa yang masih Impor. Misalnya obat obatan dan alat alat kesehatan.
“Sudah lima kali sejak Februari Bank Indonesia menaikan suku bunga dan tidak ada pengaruhnya terhadap penguatan nilai kurs rupiah.
”Kenaikan suku bunga bank sentral sudah bisa dipastikan akan memberatkan bunga pinjaman kredit para debitur bank bank nasional dan bisa berpotensi macet,”tutur dia.
Apalagi keadaan daya beli masyarakat semakin turun akibat tingginya harga harga barang dan jasa, sehingga penjualan akan turun dan berakibat pada pendapatan perusahaan para debitur .
Apalagi suku bunga the FED Akan kembali naik dan pasti rupiah akan makin melemah akibat dolar AS kembali ke negaranya.
” Belum lagi 40 persen obligasi Indonesia dipegang asing akan dilepas akibat buruknya kinerja kurs rupiah .”
Hal itu terbukti obligasi Indonesia juga mengalami tekanan. Hasil patokan obligasi 10-tahun naik 14 basis poin menjadi 8,15 persen, meningkat dari 6,32 persen pada akhir 2017.
Indeks saham utama negara merosot 1,2 persen, sehingga penurunan tahun ini menjadi 7,6 persen.
”Belum lagi diperpanjang dari sisi defisit fiskal di mana neraca transaksi berjalan yang terus defisit, akibat terjadi jor joran proyek Infrastruktur yang lebih bernuansa mercusuar dibanding memiliki nilai tambah untuk meningkatkan devisa negara.
”Seperti lebih banyak bangun gedung gedung di bandingkan membeli mesin dan membangun Industri nasional yang berbasis produk ekspor ,” tutur Arief.
Langkah yang diambil otoritas moneter dalam hal ini BI dengan menawarkan program hedging bagi pelaku usaha yang melakukan aktivitas impor untuk menjaga nilai kurs dolar AS .
Boleh lah tapi sampai seberapa efektifnya ya.?Lalu rencana pemberian insentive bagi para pelaku usaha berbasis produk ekspor seperti CPO dan pertambangan, ”Apa iya mereka tertarik untuk mengubah pendapatan mereka dalam bentuk dolar AS menjadi rupiah, untuk meningkatkan devisa dan melindungi mata uang lokal dari kekalahan pasar global.
“Kayaknya sih enga mungkin ya karena mereka sektor Perkebunan Sawit dan pertambangan banyak dikuasai oleh perusahaan asing ,'”tutur dia.
Swasta nasional yang juga mempunyai pinjaman kredit di bank bank luar negeri dan obligasi dalam denominasi dolar 7AS yang banyak akan jatuh tempo.
“Jadi sangat kecil kemungkinan mereka tertarik dengan program BI. Jadi krisis ekonomi berpotensi jika data data ekonomi yang dikemukakan disaat sata mau Pilpres tidak akurat, “pungkasnya (dib)





