oleh

Swasembada Terkendala Pendekatan Ketahanan Pangan

JakartaDetakpos-Prof Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB Bogor dan Ketua Umum AB2TI memaparkan, konsep pembangunan pertanian masih menggunakan pendekatan ketahanan pangan.

”Tidak memandang di mana pangan diproduksi dan dengan cara bagaimana,”ujar dia dalam diskusi ISRI dalam rilis yang diterima, Minggu (24/2).

Karena itu, menurut dia, masih bias ke kemampuan untuk menyediakan pangan pada level global, regional maupun nasional serta bias ke kepentingan negara maju dan Multi National Corporation (MNC).

Dwi Andreas Santosa mengatakan produksi, ekspor dan impor serealia di Dunia (Agarwal, 2014) menerangkan, di Asia mempunyai tingkat produksi 42,4 %, ekspor 14,2 %, impor 50.1 %, Afrika produksi 6,5 %, ekspor 2,6 %.

Dampak dari ketahanan pangan yaitu 90% perdagangan pangan serealia dikuasai lima TNC antara lain Cargill (USA), Bunge Ltd (Bermuda), Archer Daniels Midland (USA), Marubeni (Japan) (included Columbia Grain International), The Noble Group (UK), kedua 89% input pertanian (agrokimia) dikuasai 10 TNC, ketiga 67% pasar benih dikuasai 10 TNC, keempat 99,9% benih transgenik dikuasi 6 TNC, kelima dengan Monsanto menguasai 90%.

Dwi Andreas Santosa juga mencermati Impor pangan 2014 – 2017, antara lain beras pada tahun 2014 sebesar 844.190.606, 2015 sebesar 861.629.584, tahun 2016 sebesar 1.283.212.551 dan pada 2017 sebesar 312,801,507.

Jagung pada tahun 2014 sebesar 3.374.501.782, tahun 2015 sebesar 3.500.103.794, tahun 2016 sebesar 1.331.574.757 dan pada tahun 2017 sebesar 639.939,916. Kedelai pada tahun 2014 sebesar 5.845.414.382, tahun 2015 sebesar 6.416.820.924, tahun 2016 sebesar 6.333.785.719 dan pada tahun 2017 sebesar 7.156.825.719.

Gandum pada tahun 2014 sebesar 7.734.351.832, tahun 2015 sebesar 7.623.250.997, tahun 2016 sebesar 10.811.236.625 dan pada tahun 2017 sebesar 11.264.357.111, (D.A. Santosa, 2018).

Menurur dia, yang menarik adalah peningkatan impor gandum yang menyebabkan Indonesia menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia melebihi Mesir dan Brazil (FAS-USDA Februari 2018).

Kebijakan pertanian masa lalu dan kini belum menunjukan hal signifikan yang dengan upaya perbaikan jaringan irigasi, subsidi benih dan pupuk, Bansos, KUR, food estate dengan Program swasembada beras, jagung, kedelai,  daging sapi, gula.(d4)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini