oleh

Cerita Sejarah Desa Latukan

Pada abad XVI sekitar tahun 1515 M, Bulan Rojab,ada suatu peristiwa besar, yaitu Kenduri Agung yang diselenggarakan oleh keluarga besar Sunan Ampel yang sedang menikahkan anak putri terakhir dari Ibu seorang keturunan Bali, kenduri diadakan di Denta Ampel Suroboyo.

 Sunan Drajad (Raden Qosim) sebagi anak Sunan Ampel mengutus beberapa santrinya untuk menghadiri dan membantu penyelenggaraan Kenduri Agung tersebut.

Utusan Sunan Drajad tersebut kelompok pertama berjumlah 5 orang, masing masing bernama Lowatu, Sudanto, Niti Wongso, Sugio dan Joyo Cangkring.

Selesai Kenduri Agung, santri Sunan Drajat yang bernama Lowatu, Joyo Cangkring dan Niti Wongso pulang kembali ke tanah Pertikan Drajad bersama dengan Mbah Lamong dan Mbah Langit. Sementara Sudanto dan Sugiountuk sementara waktu menetap di Denta Ampel Suroboyo.

Perjalanan Mbah lamong berhenti di Ndapur kota Lamongan, Mbah Langit berahir dan menetap di Blangit, sementara Lowatu, Joyo Cangkring dan Wongso melanjutkan perjalanan menelusuri pemantang rawa rawa menuju Drajat, pada waktu sandeolo mereka tiba di daerah mbalong, tanpa disadari mereka bertiga dibuntuti oleh sekelompok begal, yang datang dari arah barat/pedukuan Mbalong Mbule.

Para begal mengira orang bertiga yang nyatanya adalah santri Sunan Drajad tersebut membawa harta dagangan,sudah diberitahu berkali-kali begal tidak percaya,kalau yang ia bawa hanyalah bekal perjalan pulang dari Sunan Ampel, lalu begal melakukan rudopakso, Joyo Cangkring dan Wongso berhasil menyelamatkan diri dan sampailah ia di tanah Pertikan Drajat, sementara Lowatu tewas dengan senjata sejenis sengkap dan mayatnya dibiarkan menggeletak dipemantang rawa-rawa, sementara bungkusan yang dibawa Lowatu dibawa pergi oleh begal.

Joyo Cangkring dan Niti Wongso melaporkan kejadian tersebut kepada Raden Nur Rohmat(Sendang Nduwur), menantu Sunan Drajad agar peristiwa yang menimpa Lowatu disampaikan kepada Sunan Drajad.

Sendang Nduwur berinisiatif untuk mengambil tindakan sendiri sebelum melaporkan peristiwa yang menipa Lowatu kepada Sunan Drajat (Mertuanya).

Tindakan yang dilakuan Sendang Nduwur adalah mengirim rombongan untuk mencari mayat Lowatu untuk dibawah ke Tanah Pertikan Derajad agar dapat dimakamkan secara baik menurut Islam, dalam rombongan antara lain ada Mbah Perat, Mbah Nggowa dan Mbah Cungkup.

Siapa sebenarnya Lowatu yang dibunuh begal ini, dia adalah anggota keluarga dalem dari Ronggolawe, dari ibu yang berbeda, maka dia dipandang istimewa, baik oleh Sendang Nduwur maupun oleh Sunan Drajad.

Mendapati Lowatu mayatnya sudah membusuk, maka anggota rombongan memutuskan Lowatu dimakamkan ditempat yan tidak jauh dari tempat terbunuhnya, tempat yang agak tinggi/tegalan yang sekarang disebut kolowatu.

Mendirikan Tempat Ibadah/Masjid
( Jumat Wage, Bulan Ruwah/Sya’ban 936 H/ 1515 M)
Setelah rombongan menyelesaikan pemakaman Lowatu rombongan yang terdiri antara lain Mbah Nggowa dan Mbah Cungkup mendatangi padukuan, setiba di padukuan Mbah Nggowa, Mbah Cungkup tidak mendapati tempat ibadah, maka dia beserta rombongan membuka dan membabat semak belukardiatas tanah tegalan yang sekarang dikenal sebagai Semigit.

Pada saat melakukan pembukaan tanah dari semak belukar dilakukan dengan cara mebakar, dari pembakaran semak belukar tersebut latunya terbang ke seluruh pedukuan, maka setiap jengkal tanah yang terdapat latu akibat pembakaran diberi nama dusun Latuan.

Sebelum didirikan tempat ibadah, tanah yang akan dijadikan tempat bangunan Masjid diratakan, setelah rata, maka pada malam hari Jumat Wage dilakukan kenduri, setelah kenduri selesai permukaan tanah dijala lima kali, hasil jalaan ditebar di sudut dusun, yaitu sudut Mbinggel, sudut Nduko, sudut Ngepung dan sudut Mbalong, dan ditengah tengah tanah calon bangunan Masjid, tujuannya sebagai pace’k. Titik pengunci.

Setelah dipace’k dusun dipagari dengan cara menanam rumpun barongan sekeliling dusun untuk menjaga keamanan kampung dari serangan musuh baik yang tampak-maupun yang tidak tampak[iv].

Selain membangung Masjid, Mbah Nggowa dan Mbah Cungkup beserta rombongannya juga membangun pawuduan di dekat Masjid, membangun Telogo Ngangson,

Melihat perkembangan yang sedemikian rupa Para begal risau/galau, maka akhirnya begal begal tersebut mengasingkan diri ke desa Mbraolo di Mbanjero.

Letak Geografis dan Sosiologis.
Desa Latuan terletak didataran telatah mbawan kuno sebelum ditangkis, telatah ini membentang dan memanjang mengikuti aliran mbawan sampai ke laut, tidak ada tanda-tanda adanya hutan, gunung atau pegunungan. Dimana pada saat kemarau orang akan sulit cebok dan pada saat musim penghujan susah ndodok.

Desa Latuan adalah uni atau gabungan dari pedukuhan pedukuhan, yaitu Nduko, Mbinggel, Ngepung, Mbalong, Mbutok dan lain-lain, setelah datang agama Islam yang dibawah oleh utusan Sendang Nduwur disatukan kedalam satu sistem pemerintahan desa Latuan.

Sebelum ada desa Latuan, penduduknya menganut agama Kapitayan yang percaya adanya kekuatan diluar dirinya yang sangat dahsat yang bersumber dari kekuatan Tu, dan To. (simbolisasi Watu/Tombak). Agama kapitayan ini dianut oleh sebagian besar penduduk Jawa sebelum Islam.

Dalam perkembangannya Latuan seolah olah terbagi menjadi tiga blok, blok Manjero, blok Manjobo Lor dan Manjobo Kidul dengan batas yang sangat jelas yaitu barongan sepanjang dusun dan sungai.

Pendapat/Anggapan Yang Keliru.
Pendapat bahwa danyang/pembubak desa Latuan adalah Nyai Sari adalah pendapat yang menyesatkan, karena tidak didukung oleh fakta yang benar. Nyai Sari sesungguhnya adala nyasari/menyesatkan.

Pendapat bahwa di daerah yang sekarang disebut sebagai kolowatu dahulu ada gunung lalu gunung itu pindah adalah pendapat yang keliru, karena sejak zaman purbakala wilayah Latuan dan sekitarnya adalah telata mbawan sebelum di tanggul/tangkis.

Pendapat bahwa dahulu Latuan merupakan hutan adalah keliru, karena faktanya sejak zaman purbakala wilayah kita adalah rawa-rawa yang terbentuk oleh aliran mbawan yang belum dibendung/ditangkis yang dikenal sebagai telata.

Pendapat bahwa warga Latuan tidak akan ada yang pintar sebelum dia keluar dari desa Latuan karena ada sabdo dari mayat yang di kebumikan di kolowatu adalah pendapat yang tidak dapat dibenarkan secara nalar.

Tradisi/Kebiasaan
Besik, bersih bersih menjelang dino becik, disandarkan pada peristiwan pembukaan Masjid.
Jemuah Wagean, Kenduri/kondangan yang diselenggarakan setiap hari malam Jum’at Wage, diadakan pertama kali pada saat selamatan pendirian masjid di Semigit.

Sandeolo, waktu sore menjelang malam, yang dipahami masyarakat sebagai waktu yang tidak baik mejalankan aktifitas, hal ini disandarkan pada peristiwa pembegalan di Kolowatu. Njolo Wiwitan, kegiatan menjala tanah yang akan dibangun rumah.

Pesan, Ojo sampek pager kampung iki rusak, mengko nek pager iki rusak mongko ora mong rojo koyo sing iso mlebu kampung.

Situs Peninggalan.
– Semigit.
– Tlogo Ngangson.
– Makam Lowatu di Kolowatu
– Makam Mbah Cukup di Makam Umum
– Makam Mbah Nggowa.
– Makam Lawas.

Hari Jadi Desa Latuan.
Hari Jum’at Wage Bulan Syakban/Ruwah Tahun 936 H/ 1515 M)

Peringatan Hari Jadi Desa Latuanyang ke 500 tahun, Tepat pada Hari Jum’at Wage Tanggal 26 Tahun 1436 Hijriyah, atau bertepatan dengan tanggal 15 Mei Tahun 2015 Masehi.
Nama Latuan menjadi Latukan masih menjadi pertanyaan.(*)

Dihimpun dan ditulis Oleh Subhan Bin Palal Bin Ripin Bin Sampan Bin Fulan.
( Latuan, 12 Romadlon 1408/1987M)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini