Nominasi Nobel Sastra dari Tanzania ke Indonesia?

Oleh: Dr. Tatang Abdulah

Di tahun 2021, pemenang Nobel Sastra adalah novelis Abdulrazak Gurnah. Ia sastrawan dari Tanzania. Membaca berita itu, saya kagum dan cemburu.

Tanzania negara di ujung Afrika sana. Ia berdekatan dengan Uganda dan Kongo. Saya kagum karena di negara terpencil itu melahirkan mutiara pemenang nobel sastra. Hingga hari ini, nobel sastra dianggap pencapaian puncak bagi karya sastra bernilai tinggi.

Tapi saya juga cemburu. Jika Tanzania saja memperoleh nobel sastra, mengapa Indonesia tak kunjung memperolehnya sejak merdeka 76 tahun lalu?

Bukankah Indonesia ini negara besar? Negara ini menyimpan begitu banyak kekayaan budaya! Lihatlah warisan dan sinerji peradaban islam, hindu, budha, dan budaya nusantara. Mengapa negeri yang panjang riwayat budayanya, tak kunjung melahirkan pemenang nobel sastra.

Bulan desember 2021, saya pun lega. Luas diberitakan, The Swedish Academy, panitia nobel mengundang khusus komunitas puisi esai untuk menominasikan sastrawan Indonesia bagi Nobel Sastra 2022.

Wow!! Saya terpana. Akankah nobel sastra akhirnya berlabuh ke Indonesia? Akankah nobel sastra menyebrang lautan dari Tanzania (2021) ke Indonesia (2022)?

Hal yang lumrah jika komunitas puisi esai mencalonkan “Bapak Ideologisnya” sendiri: Denny JA. Luas pula diketahui, genre puisi esai tak hanya diciptakan oleh Denny JA, tapi juga dikembangkannya, praktis dengan solo karir.

Sejak tahun 2012, pertama kali puisi esai itu dilahirkan Denny JA, hanya perlu waktu sembilan tahun, puisi esai sudah meluas ke ASEAN, masuk dalam kamus bahasa Indonesia, melahirkan lebih dari 150 buku. Dan kini komunitas puisi esai dilirik panitia Nobel Sastra.

Bagi mereka yang mengenal Denny JA, tak heran dengan pencapaian itu. Sebelumnya, Denny dikenal ikut memenangkan empat kali pemilu presiden Indonesia berturut-turut. Praktis Denny JA ikut memenangkan semua pertarungan politik puncak, mengingat pemilu presiden dipilih langung baru berlangsung empat kali.

Denny JA memang dikenal bertangan dingin, memiliki “midas touch,” juga jenius yang strategis. Banyak yang ia sentuh, berubah menjadi emas.

Memang belum tentu Denny JA akhirnya pemenang Nobel Sastra 2022. Namun berhasil membuat komunitas puisi esai dilirik dan diundang oleh The Swedish Academy, panitia nobel sastra, itu sudah sesuatu. Itu pencapaian dan prestasi budaya.

-000-

Saya pernah membaca beberapa karya puisi esai yang pernah dilahirkan oleh Denny JA, secara sangat intens.

Sebagai insan yang lama di dunia teater, puisi esai Denny JA melahirkan kesan tersendiri. Kutunggu di Setiap Kamisan, misalnya, menyajikan untaian cerita yang dituangkan dalam bentuk puisi, disertai gambar sebagai ilustrasi dalam bentuk sajian berupa buku.

Hal ini seolah memperlihatkan adanya perpaduan antara puisi dengan komik.

Dari segi disiplin keilmuan yang penulis miliki, yakni Ilmu Sejarah dan Ilmu Teater, kehadiran puisi esai justru menantang dan memperkaya baik sejarah maupun kekayaan khazanah seni pertunjukan teater.

Sebagaimana keberadaan naskah lakon dalam teater, puisi esai bisa menjadi terminal pertama bagi pertunjukan teater.

Karena itu, bolehlah dikatakan bahwa tulisan ini dimaksudkan sebagai satu cetusan pemikiran dari penulis bagi pegiat teater Indonesia dewasa ini yang cenderung memilih ruang gerak kekaryaannya tidak hanya semata berdasar pada naskah-naskah lakon sebagai pijakan awal bagi karya panggung teater.

Tentu saja tulisan ini juga tidak dimaksudkan sebagai “ajakan mutlak” untuk beramai-ramai membuat karya panggung teater berdasarkan puisi esai.

Penulis ingin membuka sebuah penawaran bahwa puisi esai benar-benar dapat dijadikan pilihan untuk diangkat ke panggung teater. Ada beberapa alasan untuk ini.

1. Puisi esai Denny JA dilihat dari bentuk/gaya pengungkapannya sangat berpeluang untuk menjadi lakon panggung karena berisi kisah dengan dramaturgi yang sangat erat kaitannya dengan cara kisah ditulis dalam bentuk naskah lakon yang sudah baku.

2. Puisi esai Denny JA ditulis dengan penceritaan (naratologi) yang dikemas sedemikian rupa—lengkap dengan protagonis, antagonis, deutragonis dan ssebagainya—termasuk autodirection dan sesekali “ke samping”, yang kompatibel bagi pemanggungan.

3. Puisi esai Denny JA membuka peluang bagi kalangan pegiat teater akademis, karena selain puisi dan narasi, puisi esai juga menyertakan catatan kaki sebagai bentuk “pertanggungjawaban moril/ilmiah” pengarangnya.

Teater akademis dapat dikembangkan dengan model semacam ini, yaitu tradisi puisi esai yang menyertakan riset dan tradisi tulisan ilmiah yang harus memperlihatkan validitas persoalan yang diteliti.

Inilah nilai plus puisi esai sebagai bahan pementasan teater.

-000-

Tercatat sudah dalam sejarah sastra Indonesia, hanya dua sastrawan Indonesia yang pernah secara resmi, mengikuti prosedur resmi, dicalonkan nobel. Mereka adalah Pramoedya Ananta Toer dan Denny JA. Mereka berdua di panggung sejarah sastra Indonesia menempati kursi khusus.(*)

*: Penulis; Peneliti, aktor, dan sutradara teater. Kini mengajar di ISBI Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *