oleh

Puluhan Pedagang Kerajinan Barongsai Cirebon Serbu Bojonegoro

BojonegoroDetakpos – Puluhan pedagang kerajinan Barongsai asal Cirebon, Jawa Barat, menyerbu Bojonegoro, Jawa Timur, untuk menjual dagangannya dalam acara kirab ritual dan budaya kebesaran YM. Kongco Hok Tik Tjing Sien, Minggu (30/9).

Seorang pedagang kerajinan Baronsai asal Cirebon Nana, di Bojonegoro, menjelaskan jumlah pedagang kerajinan Barongsai yang datang ke Bojonegoro ada sekitar 50 pedagang.

Para pedagang itu, lanjut dia, asal Desa Tegalan, Kecamatan Jamblang, Cirebon, yang menjadi sentra kerajinan Barongsai.

“Saya juga pedagang kerajinan Barongsai yang datang berjualan di Bojonegoro, semuanya warga Desa Tegalan. Di sana hampir semua menjadi perajin Barongsai,” ucap dia menjelaskan.

Ia mengaku datang ke Bojonegoro membawa enam kodi kerajinan Barongsai kecil (20 Barongsai per kodi) dan satu kodi Barongsai besar.

“Saya menjual kerajinan Barongsai kecil Rp15.000/Barongsai. Yang besar harganya Rp35.000/Barongsai,” katanya.

Menjawab pertanyaan, katanya, barang daganganya terutama Barongsai kecil cukup laris selama pelaksanaan acara kirab ritual dan budaya kebesaran YM. Kongco Hok Tik Tjing Sien yang digelar Kelenteng Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Swie Bio.

“Barongsai kecil saya sudah terjual dua kodi. Barongsai besar juga cukup banyak terjual,” ucapnya.

Yang jelas, menurut dia, para pedagang kerajinan Barongsai asal Cirebon, secara rutin datang ke berbagai kota di Tanah Air, untuk berjualan kerajinan itu ketika ada kegiatan yang diselenggarakan kelenteng.

“Ya hampir setiap bulan selalu ada kegiatan di kelenteng. Bulan lalu saya berjualan di Tuban,” ucapnya.

Acara kegiatan ritual dan budaya kebesaran YM. Kongco Hok Tik Tjing Sien di Bojonegoro, menurut Eksekutif Manager MURI Sri Widayati, diikuti 148 kelenteng dari berbagai daerah di Tanah Air. Dalam kirab itu tercatat sebanyak 144 Kiem Sien/rupang/dewa-dewi, dan jumlah Kio/Joli dewa-dewi sebanyak 85.

“Kirab ritual dan budaya di Bojonegoro masuk catatan Muri bukan mengalahkan, karena sebelumnya belum pernah ada kirab serupa yang masuk catatan MURI,” kata dia menjelaskan. (*/d1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini