oleh

Ketika Sirikit Syah Menulis Buku “Cancer and Me”

Buku dengan judul “Cancer and Me” karya Sirikit Syah menjadi istimewa, karena dibuat yang bersangkutan di tengah-tengah pergulatan melawan penyakit kanker.

Meski dengan bersusah payah, ia yang juga dosen Stikosa Surabaya itu, mampu menerbitkan buku Cancer and Me, bahkan sudah dua kali cetak pada Februari 2019.

“Aku sudah lama menduga-duga bahwa benjolan di dada kiriku ini adalah kanker. Hanya aku gak mau periksa dokter. Stag-te of denial. Paranoid,” tulis dia dalam bukunya “Cancer and Me” di halaman 10.

Buku setebal 96 halaman dengan sampul gambar Sirikit Syah mengenakan pakaian orange berjilbab hijau dengan tersenyum itu, diterbikan Kanzun Book sudah dua kali cetak, pada Februari 2019.

Di dalam pengantar buku itu ditulis dr. Ario Djatmiko, yang juga karib Sirikit Syah, mengaku terkejut ketika memperoleh pengakuan Sirikit Syah.”Saya akan ke Aussie. Program sandwich untuk menyelesaikan S3. Tapi saya merasa seperti ada benjolan di payudara dan sudah lama,” ucap Sirikit kepada dr. Ario Djatmiko.

Seketika itu dalam pengantar buku Cencer and Me, ia kemudian meminta Sirikit Syah datang ke RS Onkologi Surabaya sekaligus mengatakan bahwa benjolan di payudara pada waktu usia ini harus selalu diwaspadai. “Apalai seusia Mbak SS (Sirikit Syah),” kata dia, masih tertulis dalam pengantar bukut itu.

Mengenai kenyataan Sirikit Syah divonis kanker disampaikan di dalam bukunya itu, di halaman 10 yang ditulis dengan rinci.

Pada bulan Agustus (2013) itu ia, mengaku sudah memiliki visa untuk program sandwich-like ke Perth, University of Western Australia (UWA).

Selain itu, ia juga memperoleh Letter of Acceptance yang sangat bagus. Studi tanpa tuitition fee, akses penuh ke berbagai fasilitas dan diberi office space.

“Namun, aku menjadi ragu karena gangguan nyeri di payudara muncul makin kerap,” katanya.

Ia kemudian memberikan gambaran pada awal divonis menerima kanker setelah menjalani pemeriksaan USG di RS Onkologi Surabaya (RSOS).

Hasilnya, jelas ada kanker cukup besar di payudara kiri. Dan satu titik di ketiak kiri. Kelenjar getah bening?. USG dilakukan menyeluruh untuk mencari kemungkinan penyebaran di payudara kanan, leher, paru-paru, liver. Hasilnya nihil. Hanya di payudara kiri dan ketiak kiri.

“Hari itu juga aku disarankan melakukan biopsi untuk diketahui jenis kankernya,”

Masih tetap melakukan aktivitas, termasuk menulis dalam kondisi sakit bukanlah pekerjaan mudah, apalagi penyakit sekelas kanker yang tidak hanya mendera penderita secara mental, tapi juga rasa sakit yang luar biasa terutama apabila pada proses pengobatan seperti kemoterapi.

Menginjak beberapa tahun kemudian bagi Sirikit Syah rasa sakit bukanlah halangan. Sebagaimana dituturkan Sirikit Syah dalam bukunya halaman 92, Saat ini aku menjalani kemoterapi di RS Haji. Kujalani dengan riang gembira,. Ikhlas. Dokter Een yang menangani aku baik sekali, Penuh perhatian dan tampak ahli di bidangnya. Hematologi, Para suster di RSH juga baik dan terampil. Secara umum perawatan berjalan dengan baik.

“Alhamdullilah aku selalu lolos tes lab. Hasilnya dinyatakan kondisi badan siap kemo, Jadi kemo tidak tertunda,” tulis ibu dua anak dengan tiga cucu dari hasil perkawinan dengan Chairul Anam itu.

Meskipun dengan kondisi mengidap kanker bukan berarti Sirikit Syah patah semangat, berbagai kegiatan tetap dijalankan mulai mengajar di Sirikit School of Writing yang tujuannya untuk meningkatkan jumlah dan kualitas penulis muda Indonesia.

Mantan wartawan Surabaya Post, juga pernah magang di CNN Washington DC, Amerika Serikat, penerima tujuh Scholarship-fellowship internasional ini meraih gelar Master of Arts di bidang ilmu komunikasi dari University of Westminster London (2002).

Selain juga meraih gelar doktor di bidang Pendidikan Bahasa dari Universitas Negeri Surabaya (2018). Ia telah menerbitkan 17 buku tentang jurnalisme, media massa, cerpen, puisi, memoir juga lainnya, termasuk buku Cancer and Me. (buku ke-17).

Selama lima tahun bergelut dengan penyakit kanker, ia akhirnya menemukan kesimpulan setidaknya memahami bahwa pemicu pertumbuhan kanker pada dirinya yaitu beban pikiran lebih dominan berperan daripada pola makan.

Tidak terlalu berlebihan kemudian dia berpendapat yang juga ditulis dalam buku itu, “Urip ojo kemrungsung, Ono waktune sumeleh karo leyeh-leyeh,”. (*)

Penawarta: Slamet AS
Editor: Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini