oleh

ISRI Nilai Pelatihan Online Prakerja Tidak Efektif

JakartaDetakposcom– Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) melalui kajian ekonomi mencermati terkait Stimulus Pemerintah sebesar Rp 405,1 Triliun untuk menanganani dampak Covid-19 baik secara ekonomi maupun sosial.

Koencoro Adi, Wabendum DPN ISRI mengatakan, stimulus yang digelontarkan untuk mengamankan ekonomi dalam mengahadapi situasi covid-19 saat ini. Pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada sektor informal yang mencapai 70% dari ekonomi Indonesia, stimulus untuk UMKM seperti kebijakan tax, ikut mengerjakan proyek pemerintah untuk efektifitas penyerapan anggaran.

Koencoro Adi mengatakan, terkait cadangan pangan hingga 3 bulan setelah Idul fitri cukup aman, terjadi kenaikan harga hanya karena panik danĀ  tidak mungkin ada operasi pasar yang melibatkan banyak orang saat ini.

Koencoro Ad mendorong tiga kebijakan stimulus antara lain sistem terintergrasi pemerintah dan segenap pengusaha agar roda ekonomi berputar, kemudahan sektor pajak terutama untuk UMKM, restrukturisasi pinjaman untuk pelaku usaha.

Ketua Bidang Ekonomi DPN ISRI, Robby Alexander Sirait mengatakan di tengah Ketidakpastian global akibat covid-19 ini mengakibatkan investor akan memindahkan instrumen keuangan pada instrumen yang lebih stabil atau lebih aman ini menjadi problem.

Di sisi lain pembatasan transportasi, orang, logistik, dari hampir semua negara yang terdampak Covid-19 ini mengakibatkan supply chain dunia bermasalah yang akan mengkoreksi kinerja ekspor, sehingga pertumbuhan ekonomi diperkirakan minus tiga persen.N

Namun Indonesia optimis pertumbuhan sekitar 2,3 % Tahun 2020 namun hal tersebut dirasa cukup berat karena dalam kwartal 2 pertumbuhan ekonomi sekitar 1,1 % dan mengalami peningkatan di kwartal 3 sekitar 1,4 %, peningkatan ekonomi pada kwartal ketiga ini dapat diasumsikan puncak covid-19 terjadi pada bulan Mei-Juni dan perlahan bulan Juli sudah mulai membaik, akan tetapi pertumbuhan ekonomi nasional akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global khususnya Amerika dan juga Eropa yang diprediksi puncak covid di bulan Agustus – September, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di sekitar 2,1 – 2,3%.

Robyy menyambut baik dikeluarkannya Perppu 1/2020 yang sebenarnya kita telah diambang krisis yang mana hampir rata-rata negara terdampak Covid-19 mengalami pertumbuhan ekonomi minus (-) 3% namun Indonesia diprediksi masih mampu bertahan diangka sekitar 1% dalam kondisi pandemi atau kwartal 2 ini, hal ini merupakan bentuk gerak cepat dalam membuat dasar hukum dalam pemulihan Covid-19 yang dapat membuat ekonomi porak poranda, namun tentunya bukan berarti Perppu tersebut tanpa catatan.

Terjadi inflasi lalu hanya karena panik terutama pangan dan alat rumah tangga, namun pasokan pangan tidak terganggu, PSBB ini juga memastikan pasokan pangan tidak terganggu dan pertumbuhan ekonomi di fokuskan pada goverment spending dan mindseat, namun apabila supply tidak dapat dijaga oleh pemerintah dan mindseat di drive akan mengakibatkan uang dimasyarakat tidak punya makna ini yang perlu diperhatikan.

Robyy juga memberikan catatan terkait relokasi anggaran antara lain dalam terkait pembiayaan kepada BUMN yang harus di hindari untuk yang kinerjanya buruk, dana abadi penelitian sekitar Rp 5 triliun, dana kebudayaan dan lainnya, seperti juga dana pra kerja tertutama pelatihan online yang tidak efektif karena kondisi sekarang tidak normal, sisi produksi terganggu, sehingga akan berakibat PHK, rentan menjadi miskin sosial savety net, porsi pelatihan direlokasi ke sosial savety net, atau kepada masyarakat yang di phk, dunia kerja kita dihadapkan pengangguran karena diperkirakan akan bertambah tahun ini 3-7 juta. (d/5).

Editor: AAdib

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini