oleh

Saatnya Masuk Bulan Damai Ramadhan

Oleh A Adib Hambali

PROSES politik nasional Pemilu 2019, masih diwarnai oleh upaya dan manuver kelompok tertentu yang mempolarisasi bangsa termasuk umat untuk kepentingan mereka.

Kelompok ini mencoba menerapkan strategi menekankan perbedaan identitas yang dapat saling berbenturan satu sama lain.

Munculah rekomendasi kelompok yang mengklaim Ijtim’ Ulama III yang ditandatangani oleh oleh KH Abdul Rasyid Abdullah Syafie, Ustaz Yusuf Muhammad Martak, Ustaz Zaitul Rasmin, Ustaz Slamet Maarif, KH Sobri Lubis, dan Ustaz Bachtiar Nashir.

Mereka yang mengaku Ijtima’ Ulama III menyimpulkan telah terjadi kecurangan pemilu bersifat terstruktur, sistemtis dan massif.

Dasarnya jelas masih asumsi, katanya atau berdasarkan informasi atau potongan informasi yang dinarasikan sebagai kecurangan. Tapi tidak berdasarkan fakta, data, kesaksian dan verifikasi dan putusan dari lembaga yang sah dan kredibel.

Bahkan mereka bisa lebih tahu tentang kecurangan ketimbang BPN, sehingga merekomendasikan kepada BPN untuk mengajukan keberatan hasil pemilu.

Multaqo Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim pun menjawab dan memberi pencerahan kepada umat.

Sejumlah ulama berkumpul di Ball Room Hotel Kartika Chandra Jakarta Selata malam (3/5).
Mereka menyatakan hal yang disampaikan tersebut adalah bagian dari strategi yang telah menimbulkan kerusakan hebat pada struktur-sosial hubungan antar kelompok di Indonesia.

Jubir Multaqo, Ust. M Najih Arromadloni mengatakan, polarisasi dikotomis masyarakat Indonesia yang terjadi pasca-Pemilu 2019, memerlukan upaya tersendiri untuk memperbaiki.

Umat Islam dalam beberapa hari lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Seperti kita pahami bersama ini merupakan saat yang tepat bagi ummat Islam untuk membangun perdamaian, membersihkan diri, serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan dalam rangka membangun keadaan yang lebih baik.

Terkait dengan hal ini, situasi dan kondisi kebangsaan seyogyanya dijaga bersama agar kondusif untuk berlangsungnya ibadah yang khusyuk serta penuh curahan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Alim-Ulama, Habaib, dan cendekiawan muslim seluruh Indonesia, mengajak umat Islam untuk menjalani Ramadhan 2019 dengan semangat meningkatkan ukhuwah Islamiyah, menjalin silaturahmi, menghindari fitnah dan perpecahan, serta saling memaafkan.

Meneguhkan kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila yang secara nyata sejalan dengan ajaran Islam.

Mewujudkan stabilitas keamanan, perdamaian, dan situasi yang kondusif, dengan mengedepankan persamaan sebagai umat manusia yang saling bersaudara satu sama lain, tidak mempertajam perbedaan yang bersifat kontra produktif.

Menghindari dan menangkal aksi-aksi provokasi dan kekerasan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, selama dan sesudah bulan Suci Ramadhan.

Mentaati tata peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di seluruh wilayah NKRI, sebagai pengejawantahan hubungan yang konstruktif dan penuh rasa hormat kepada pemerintahan yang sah (ulil amri). Hal ini sangat jelas diajarkan di dalam tradisi agama Islam.

Tidak terpancing dalam melakukan aksi-aksi inkonstitusional, baik langsung maupun tidak langsung.

Tindakan inkonstitusional bertentangan dengan ajaran Islam dan dapat mengarah kepada tindakan “bughot”.

Saling fastabiqul khairat, guna meningkatkan kekuatan ekonomi ummat, agar dapat turut aktif dalam mengentaskan kemiskinan, mengatasi ketimpangan serta mengejar ketertinggalan penguasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Acara ini diinisiasi oleh ulama sepuh KH. Maimun Zubair dan Habib Luthfi bin Yahya.
Multaqo ini dihadiri 1.500 orang peserta dari para ulama sepuh, berbagai ormas, para habaib, para cendekiawan muslim dari seluruh daerah di Indonesia.

*) Redaktur senior Detakpos

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini