oleh

Bangkitnya Industri Sepakbola Profesional

MalangDetakpos-Gelaran final Piala Presiden 2019, semula menimbulkan pro dan kontra. Keputusan Organizing Committee (OC) untuk menyelenggarakan laga puncak di dua kandang tim finalis menjadi penyebabnya.

Terlebih finalis tahun ini adalah Persebaya Surabaya dan Arema FC. Loyalis kedua tim, Bonek (Persebaya) dan Aremania (Arema) juga acapkali terlibat kerusuhan, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Final dengan format ini memang baru diterapkan tahun ini. Dalam tiga gelaran sebelumnya, OC memilih menggunakan format single final di tempat netral.

“Saya pikir (keamanan) bagus, kami juga sudah dan terus berkomunikasi dengan Kapolri. Dengan Panglima TNI juga kami bertemu, hubungan semua pihak sangat bagus. Tetapi yang paling penting, ada semangat dari suporter yang sudah mulai ada kesadaran bersama untuk menjadi lebih baik lagi,” ujar Ketua SC, Maruar Sirait.

Pria yang akrab disapa Ara ini juga mengapresiasi proses audit yang kembali dikerjakan oleh pihak ketiga, dalam hal ini PricewaterhouseCoopers (PWC).

PWC memang sejak 2015 terus berkomitmen membantu proses audit Piala Presiden.

“Memang ini waktunya sepak bola bangkit dengan transparan. Saya tidak berani bilang begitu (gelaran paling sukses). Tetapi dari segi audit, kalau dulu selesai turnamen baru dilakukan audit. Khusus tahun ini, di awal sudah dilakukan audit, bahkan sepanjang turnamen juga,” jelasnya.

Ara juga mengakui dukungan luar biasa dari berbagai pihak menjadikan turnamen kali ini kembali bisa dikatakan sukses.

Meski dirinya tak ingin mengatakan bahwa gelaran tahun ini sebagai yang paling sukses.

“Saya sangat terharu, sudah empat kali kita mengelola Piala Presiden. Saya sudah laporkan kepada Presiden dan beliau sangat mengawasi perkembangan kami. Ini semua berkat kerja kolektif teman-teman OC, kerja keras dari Emtek serta PWC. Tidak ada Superman adanya Superteam,” kata Ara.

Ara juga akan mengusulkan kepada Presiden RI, Joko Widodo, untuk mengundang perwakilan seluruh tim peserta untuk datang ke istana. Bukan hanya tim yang mendapatkan supremasi tertinggi.

“Besok saya akan bertemu Presiden, nanti saya sampaikan bagusnya seperti apa. Kalau bisa jangan yang juaranya saja, tetapi kalau bisa seluruh perwakilan tim peserta. Semuanya diundang supaya merasa dihargai, karena dulu juga begitu semuanya diundang,” ucapnya.

Piala Presiden masih mendapatkan tempat di hati para sponsor. Hal tersebut terlihat dari jumlah dukungan yang mencapai Rp 52 miliar pada gelaran tahun ini.

Meski sedikit menurun dari gelaran musim lalu yang bisa meraup sponsor hingga Rp 55 miliar, Emtek selaku sponsor utama justru meningkatkan nilai dukungan dari Rp 30 miliar menjadi Rp 46 miliar.

“Sponsor luar biasa, sampai hari ini ada Rp 46 miliar kami dapat dari Emtek. Dari sponsor (lainnya) Rp 6 miliar. Sudah bagus sekali, sampai saat terakhir juga masih ada yang memberikan sponsor,” ujar Ara.

“Saya pikir ini kemajuan yang baik. Presiden juga mengirimkan salam hormat kepada semuanya, PSSI, klub dan suporter. Beliau sangat mengapresiasi turnamen ini karena dari OC sudah pasti untung,” sambungnya.

Ara ini juga merasa bangga bisa menggelar Piala Presiden hingga keempat kalinya. Apalagi Presiden RI, Joko Widodo, juga terus mendukung kebangkitan sepak bola Indonesia.

“Dukungan (Presiden) luar biasa. Suporter juga sudah makin tahu kalau mau menang itu bukan menyuap wasit atau berkelahi tetapi pilih pelatih bagus, pemain bagus, dan latihan yang bagus,” imbuhnya.

Piala Presiden 2019 menjadi kebangkitan profesionalitas industri sepakbola di Tanah Air.  Tanpa serupiah pun dari APBN, sepakbola bisa bangkit dengan mengandalkan sponsor, dan uang pemasukan tiket.

Sumber: PSSI

Editor : A Adib

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini