oleh

Geliat Sel Sel Terorisme

Oleh: A Adib Hambali*

AKSI teror dan ekstremisme-kekerasan kembali terjadi di Sulawesi Tengah. Tepatnya, di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Dari penelusuran beberapa sumber dan informan SETARA Institute di Sulawesi Tengah, empat warga dalam satu keluarga dibunuh secara sadis. Selain itu, satu rumah ibadah Bala Keselamatan dan enam rumah dibakar.

Untuk mengantisipasi terjadinya serangan lanjutan, ratusan warga pun diungsikan ke tempat yang lebih aman di Kabupaten Sigi.

Dalam analisis SETARA Institute, tindakan kekerasan bersenjata secara sadis tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso. Mereka adalah sisa-sisa kelompok Santoso yang belum berhasil diringkus oleh Satuan Tugas Operasi Tinombala.

Untuk diketahui, jarak antara Poso Pesisir Utara, dimana MIT sebelumnya berbasis dan melakukan aktivitas, dengan Lemban Tongoa hanya sekitar 23-25 Kilometer. Kabupaten Sigi sendiri secara geografis berada di antara Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong yang selama ini dianggap sebagai teritori MIT Poso.

SETARA Institute pun mendesak agar Satgas Operasi Tinombala yang masa tugasnya sudah diperpanjang sampai 31 Desember 2020 agar mengoptimalkan sisa masa tugas untuk perburuan belasan anggota MIT Poso yang masih berkeliaran di hutan dan pegunungan sekitar Poso.

Komplotan teroris Poso tersebut tidak boleh diremehkan, apalagi dianggap lemah. Pascatewasnya Santoso dan tertangkapnya Basri pada 2016, Ali Kalora telah mengambil alih kepemimpinan MIT Poso dan hingga kini belum tersentuh aparat.

Satgas dan seluruh aparat keamanan harus menjamin seluruh warga negara, termasuk di pedalaman dan pegunungan Sulawesi Tengah, dari serangan kelompok manapun yang mengancam keamanan dan keselamatan (human security) mereka.

SETARA Institute mendesak pemerintah, khususnya aparat keamanan, untuk tidak lengah dalam mengantisipasi konsolidasi dan bangkitnya “sel-sel tidur” terorisme dan ekstremisme-kekerasan.

Peningkatan kekecewaan publik belakangan ini atas kinerja pemerintahan di berbagai bidang, dalam seluruh cabang kekuasaan, dapat dimanfaatkan oleh sel-sel tidur dan jaringan terorisme dan ekstremisme kekerasan untuk mendapatkan momentum dan melakukan konsolidasi.

Terorisme dan ekstremisme-kekerasan tidak mengenal agama. Oleh karena itu, SETARA Institute mendorong tokoh lintas agama untuk sama-sama mengutuk kekerasan yang digunakan oleh kelompok tertentu atas nama agama.

Selain itu, mereka hendaknya bersama-sama membangun kehidupan keagamaan yang teduh.

Perlu mengaktualisasikan spirit Rencana Aksi Rabat Maroko 2012 dan Deklarasi Beirut Lebanon 2017, bahwa kebencian yang menghasut terjadinya diskriminasi, permusuhan, dan kekerasan, adalah ‘musuh’ bersama lintas agama.

Ketua PP Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam)  Nahdlatul Ulama (NU) H Rumadi Ahmad pun menegaskan bahwa aksi pembunuhan tersebut jelas telah melukai masyarakat Indonesia dan perlu mendapatkan tindakan yang cepat dari aparat.

Tidak ada alasan yang membenarkan mengenai aksi kejam yang diduga dilakukan oleh militan MIT. Perbuatan itu sangatlah biadab dan tidak manusiawi, perlu mendapat perlawanan dari aparat baik itu Polri maupun TNI

“Peristiwa tersebut sangat menyakitkan, bukan hanya disesalkan tapi patut dikutuk. Tak ada alasan apapun yang bisa membenarkan perbuatan biadab tersebut,” katanya dilansir NU online, kemarin.

Ia pun menegaskan, perlawanan yang saat ini bisa dilakukan oleh negara adalah mempercepat tindakan dari aparat, misalnya dengan menangkap gerombolan teroris itu. Langkah ini dinilai tepat untuk melindungi seluruh masyarakat yang ada di Sulawesi Tengah.

Selanjutnya, agar tidak terjadi lagi kasus serupa, Lakpesdam PBNU mendorong kepada aparat keamanan untuk mendeteksi secara dini gerakan-gerakan kelompok teroris.

Sementara masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Jika ada hal yang mencurigakan segera berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Aparat keamanan perlu deteksi dini yang lebih kuat agar peristiwa sejenis tidak terulang. Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan dan bekerja sama dengan aparat keamanan lebih erat.”

Sementara itu, pihak aparat kepolisian setempat masih mendalami kasus yang menewaskan satu keluarga secara naas itu. Namun, diduga kuat ada tiga orang buron dari kelompok MIT yang diduga terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Para pelaku pun melarikan diri ke arah hutan usai melakukan aksinya.

Dugaan Kronologis

Jauh sebelum itu, aparat TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Tinombala menembak mati dua anggota MIT Poso, yang pernah masuk Kota Palu, Sulawesi Tengah. Keduanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Karena itu, munculnya pembunuhan ini diduga sebagai pembalasan pihak MIT kepada aparat. Sengaja, mereka mengambil korban dari kalangan sipil untuk menakut-nakuti masyarakat.

Senada dengan itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah Sutami M Idris, juga mengecam tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Menurutnya, peristiwa itu jelas tidak dapat dikaitkan dengan sikap pemeluk agama tertentu.

Mereka adalah teroris yang gemar membuat masyarakat resah dan tidak tenang.   PCNU Poso mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak terprovokasi dengan informasi yang berkembang. Masyarakat juga harus menahan diri, serahkan semuanya kepada pihak yang berwenang.

Dia pun mengajak seluruh Nahdliyin dan masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan dan menolak segala bentuk kekerasan dan mendukung aparat keamanan untuk mengusut tuntas insiden yang terjadi dan menemukan pelaku dari peristiwa itu,” ujarnya.

Kasus terorisme dan ekstremisme-kekerasan seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah ini jangan dimanfaatkan sebagai isu sosial-politik apapun oleh kelompok manapun untuk memantik segregasi sosial-politik atau sosial-keagamaan di tengah-tengah masyarakat.
Demikian Halili Hasan, Direktur Riset SETARA Institute.(*)

-Redaktur Senior Detakpos.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini