oleh

Polemik “Ekonomi Kebodohan”

Oleh: A Adib Hambali (*)

EKONOMI kebodohan”. Itulah istilah yang muncul seiring semakin memanasnya rivalitas menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Adalah Prabowo Subianto bicara soal ekonomi kebodohan. Apalagi, calon presiden itu menyebut bahwa selama ini banyak kekayaan Indonesia yang hilang karena diambil asing.

Juru Bicara PSI Rizal Calvary Marimbo yang mendukung Pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin pun membalas dan menyatakan tidak habis pikir mendengar Prabowo Subianto bicara soal ekonomi kebodohan.

Apalagi, calon presiden itu menyebut bahwa selama ini banyak kekayaan Indonesia yang hilang karena diambil asing.

Jika hal tersebut adalah indikator ekonomi kebodohan, maka Prabowo dan calon wakil Presiden Sandiaga Uno termasuk pelaku utama. Pasalnya, mereka dituding sebagai fasilitator tangan-tangan asing yang ingin menjamah kekayaan Indonesia.

Dia pun mengajak untuk menelisik dari keduanya yang berbisnis dari masuknya dana-dana asing. Semacam makelar. Singkat kata sebagai perantara atau makelar bagi investor asing.

Keluarga Prabowo dekat dengan sejumlah petinggi perusahaan tambang dunia. Di antaranya Oleg Deripaska, Reuben Brothers dan Robert Friedland, seorang Yahudi pemain tambang legendaris asal AS

Dari Robert Friedland penguasa tambang emas dan tembaga raksasa di kawasan Mongolia ini Hashim (adik Prabowo) berkenalan kepada Nat Rothschild.

Dari sinilah keluarga Prabowo dikait-kaitkan dengan upaya Nat Rothschild untuk menguasai tambang-tambang di Indonesia.

Hal yang sama juga dengan Sandi. Dia adalah perpanjangan tangan asing dalam merebut perusahaan-perusahaan dan aset-aset di Indonesia.

Silakan telisik aliran-aliran dana asing yang masuk ke perusahaan-perusahaan mereka. Jadi siapa yang sebenarnya yang mempraktikan ekonomi kebodohan. Siapa sebenarnya yang menjadi perpanjangan tangan asing,” kata Rizal.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Geindra Arief Poyuono menilai Kader PSI itu gagal paham tentang kekayaan Indonesia yang bocor keluar negeri.

“Orang PSI enga ngerti apa apa tentang kekayaan Indonesia yang mengaliri keluar negeri,” kata Arief Poyuono.

Begini gampangnya untuk jelaskan kalau kekayaan Indonesia itu mengalir keluar negeri. Contohnya, baru baru ini akibat nilai kurs rupiah yang semakin melemah Rp 15 ribu menuju Rp 16 ribu rupiah/dolar AS.

Bank Indonesia membuat aturan akan memberikan  insentif pada perusahaan perusahaan asing dan nasional yang produknya berorientasi ekspor seperti sektor pertambangan, kelapa Sawit ( CPO).

Jika hasil pendapatan dari ekspor mereka berupa hasil tambang dan CPO dalam bentuk dolar AS, tidak ditransaksikan dan disimpan di bank bank  luar negeri tetapi di taruh di Indonesia untuk di kurskan dalam rupiah, hasil ekspor tersebut masuk dalam Produk Domestik Bruto  (PDP) Indonesia.

Seharusnya pendapatan itu berada di Indonesia jika pembuat kebijakan moneter di atau Pemerintah memiliki kemampuan dalam mengelola ekonomi,”kata Arief.

Misalnya Presiden Joko Widodo berani melakukan kebijakan kontrol modal yang keluar masuk di Indonesia agar kekayaan dalam bentuk pendapatan ekspor tidak mengalir keluar negeri

Nah ini namanya sistim ekonomi yang bodoh dan takut larangan IMF dan World Bank, karena jika melakukan capital control atau kontrol modal keluar masuk dianggap oleh IMF Dan World Bank sebagai hambatan liberalisasi modal yang keluar masuk ke negara negara lain

Coba kalau berani lakukan kebijakan kontrol modal seperti dilakukan oleh China dan Negara lain pasti kekayaan Indonesia akan berada di Indonesia dan tidak perlu menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi Pemerintah di jual ke orang asing, dan terpenting tidak perlu utang ke luar negeri.

Padahal dana yang dipinjamkan ke Pemerintah Indonesia itu adalah dana hasil aktivitas ekonomi  yang produk domsetik Bruto Indonesia.

Nah itu namanya ekonomi kebodohan dan atau tentang apa yang namanya kekayaan negara mengalir keluar.

Sedangkan masalah bisnis keluarga Hasyim Dan Sandiaga itu bagian dari bisnis dengan Mitra Internasional ,tapi coba check ada tidak dana perusahaan Sandiaga atau Hasyim stay di luar neger
“Jawabnya tidak beda dengan para pengusaha yang semua menempatkan dana hasil usahanya di Indonesia di taruh di Singapore dan Hongkong .

(*): Penulis Redaktur senior Detakpos

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini