oleh

Memaknai Narasi Bharata Yudha hingga People Power

Oleh : A Adib Hambali (*

HIKAYAT Bharata Yudha mengisahkan tentang kubu koalisi Kurawa yang mempunyai kekuatan militer dan finansial yang masif karena mampu mengumpulkan 100 penguasa.

Koalisi raksasa ini dihadapi oleh koalisi Pandawa yang hanya terdiri dari lima orang bersaudara. Ini perang besar (the ultimate war) yang menentukan masa depan peradaban umat manusia. Pasukan Kurawa mengerahkan semua potensi kekuatan yang dimiliki.

Segala macam taktik strategi kotor dan licik diterapkan. Intrik, fitnah, hoax dan segala taktik buruk diterapkan untuk melemahkan Pandawa.

Ada tokoh-tokoh antagonis seperti Sengkuni dan Durna di kubu Kurawa yang ahli meracik strategi dan taktik paling kotor. Ada juga Dursasana yang tinggi besar, kasar, dan rakus.

Di sisi lain Pandawa adalah kubu moral. Tekad Pandawa dalam perang Bharata Yudha adalah laku moral untuk melawan kekuatan bathil demi menegakkan Negara yang haq.

Pada akhir episode Bharata Yudha, bahwa koalisi Pandawa bisa menghancurkan koalisi Kurawa.

Adalah Ketua Dewan Kehormatan DPP PAN, Amien Rais yang pernah mengibaratkan Pilpres 2019 laksana perang Bharata Yudha.

Pernyataan ini diungkapkan di depan beberapa orang di perhelatan Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Jogja saat itu. Pernyataan yang bersifat briefing ini kemudian menyebar ke media sosial.

Karuan saja pernyataan itu memantik reaksi dan kritik. Amien Rais tidak pantas menyebut
pilpres disamakan dengan perang Bharata Yudha.

Pilpres 2019 adalah kontestasi lima tahunan. Proses demokrasi biasa.
Tentu ada yang dinyatakan terpilih dan tidak terpilih.

Itulah mengapa konstitusi maupun regulasi lain tidak menggunakan istilah “menang” dan ‘kalah”.

Amin Rais mencoba menggiring opini dengan ibarat itu. Dia pun mengklaim bahwa pihak yang ia dukung adalah Pandawa dan rivalnya dituding sebagai Kurawa.

Beberapa hari menjerlang coblosan, Amien Rais pun kembali menggiring opini dengan
narasi ancaman bergeraknya people power.

Karuan saja Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin (01) pun mensinyalir dan menduga akan ada manuver ‘berbahaya’ dari kubu capres nomor urut 02, Prabowo Subianto. Hal itu dibuktikan, setelah tiga kali deklarasi mengklaim kemenangan Pilpres 2019.

Manuver berbahaya itu yakni menggerakkan people power untuk mendelegitimasi pemilu. ‎

Upaya mendelegitimasi pemilu diikuti seruan people power akan membawa negara ini ke jurang perpecahan,” kata Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf Amin,TB Ace Hasan Syadzily (Okezone, 20/4/2019).

Ada dua modus yang‎ dibangun kubu Prabowo lewat tiga kali deklarasi kemenangan. Pertama menjalankan strategi firehose of falsehood dengan menanamkan keyakinan pada pengikutnya bahwa Prabowo-Sandiaga Uno sudah memenangkan Pilpres 2019.

Dengan strategi deklarasi berulang-ulang itu pendukung disajikan realitas semu bahwa kubu 02 sudah menang dan informasi di luar itu adalah sesat dan direkayasa.

Dengan cara itu para pendukung seperti digiring untuk percaya satu sumber yakni: survei internal, exit poll internal dan real count internal.

Tujuan utama tiga kali mendeklarasikan kemenangan diduga kuat untuk menggalang sentimen pendukungnya agar bisa melanjutkan aksi berikutnya yakni gerakan people power.

Bisa jadi rangkaian dari skenario kubu 02 yang selama ini tokoh-tokohnya sudah bicara soal people power. Ini jelas manuver yang berbahaya.

Ajakan-ajakan yang menolak hasil pemilu, mendelegitimasi lembaga dan hasil kerja penyelengara pemilu dan kemudian mengambil langkah inskonstoitusional sesungguhnya adalah mengingkari dan mengkhianati aturan main yang telah disepakati bersama sebagai sebuah bangsa.

Pemilu adalah alat dan arena di mana setiap kontestan berburu dukungan sekuat dan sekeras mungkin, namun jika rakyat sudah memilih dan menentukan pemenangnya, maka semua pihak harus menerimanya.

Maka, mari hormati proses yang sudah dan sedang berjalan. Percayakan semua lembaga penyelenggara pemilu bekerja menyelesiakan tugasnya dan menetapkan hasil pemilu.

Jika ada kekecewaan dan temuan-temuan pelanggaran atau kecurangan, silstem pemilu kita telah menyedikan berbagai saluran penyelesian.

*) Redaktur senior Detakpos

.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini