oleh

Persibo, Tim Amatir Kiprah Profesional

Oleh: A Adib Hambali (*

JELANG Asprov PSSI Jatim menutup pendaftaran Kompetisi Liga 3, pada 10 Maret 2020, kemelut di Persibo Bojonegoro berakhir, menyusul pihak managemen Abdullah Umar dkk menyerahkan ke Askab PSSI setempat.

Oleh Askab, Persibo pun didaftarkan untuk ikut berlaga pada Kompetisi Liga 3 regional Jawa Timur yang bakal kick off pada Juni mendatang.

Pengurus Persibo Bojonegoro mengirim surat nomor 01/Persibo-Bjn/ll/2020, tertanggal 19 Fjebruari 2020, ditujukan kepada Bupati Bojonegoro Cq. Aşkab PSSI, tentang peralihan pengelolaan Persibo.

Dalam jawaban, Aşkab PSSI menyatakan tidak pernah meminta atau menolak terkait penyerahan pengelolaan Persibo kepada induk organisasi sepakbola tersebut.

“Jika lbu Bupati dan stakeholder terkait memberikan penugasan resmi terkait hal ini, Aşkab PSSI akan melaksanakan tugas tersebut.” Begitu salah satu poin jawaban surat Askab.

Persoalan legalitas dan hukum menjadi prioritas yang perlu dituntaskan kajiannya sesuai ketentuan perundang – undangan dan dicarikan kesepakatan bersama semua stakeholder sepakbola Bojonegoro sebelum Persibo benar-benar “diserahkan” pengelolaannya kapada Aşkab PSSI.

Berikutnya, memastikan alokasi anggaran APBD Kabupaten Bojonegoro untuk Persibo pada tahun 2020, di luar anggaran yang diterima Aşkab PSSI selama ini. Termasuk pada tahun-tahun selanjutnya selama Persibo masih dikelola oleh Aşkab PSSI.

Pada sisi lain, APBD tidak boleh digunakan untuk membiayai olahraga profesional. Hal itu tertuang dalam Permendagri Nomor 22 tahun 2011. Karena perubahan status dari profesional ke amatir menjadi keharusan jika mengharapkan dana APBD.

Sebuah tantangan besar ibarat “menggantung asa”. Betapa tidak, tiga kali mengikuti kompetisi Liga 3 telah gagal naik tahta ke Liga 2 dalam status profesional. Bagaimana bisa lolos jika menjadi klub amatir dengan segala keterbatasan pendanaan.

Beban semakin berat karena
semua stakeholder juga bersepakat bahwa tahun ini Persibo Bojonegoro ditargetkan promosi ke Liga 2 dengan upaya yang jelas dan terukur.

Susunan pengurus baru Persibo Bojonegoro dibentuk oleh stakeholder sepakbola Bojonegoro melalui arahan Bupati, dan tidak harus diisi oleh pengurus Aşkab PSSI.

Pengurus Persibo yang bakal dibentuk inilah yang bakal menjadikan klub lebih moncer. Tentu saja jika mereka yang duduk adalah orang orang profesional, paham sepakbola. Bahkan diperlukan orang orang yang “gila bola” sehingga tidak membawa olahraga ini untuk kepentingan sesaat.

Secara legal bisa diatasi dengan cara mengubah status dari PT atau klub profesional menjadi klub amatir yang bisa mendapat kucuran dana dari APBD melalui organisasi induk.

Sisi lain, Persibo yang sudah memiliki suporter ribuan jumlahnya, juga bisa menjadi pundi pundi pendanaan. Tentu juga bisa mengundang sponsor dan investor yang menjadi funding modal untuk merekrut pemain pemain berkualitas di liga 3 yang diharapkan mampu mengentaskan Persibo menuju liga 2.

Bukan hambatan Persibo menjadi klub amatir bisa moncer. Jika memiliki sumber dana cukup dikelola secara profesional, dan didukung skuad tim yang berkualitas di lapangan hijau, asa bisa naik tahta tetap terbuka.*)

Penulis : Redaktur senior Detakpos

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini