oleh

Teladan Para Wali Pun Sampai Vatikan

Oleh : H. A Adib Hambali (*

MENEGUHKAN Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.” Tema itulah yang diangkat dalam Muktamar NU Agustus 2015 di Jombang.

Berikutnya deklarasi Nahdlatul Ulama di ISOMIL Mei 2016 serta Deklarasi GP Ansor di Global Unity Forum yang dihelat sehari pasca ISOMI. Maka pada 21-22 Mei 2017 GP Ansor mengadakan Halaqah Internasional di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur.

Halaqah menghadirkan ulama dan pembicara dari dalam dan luar negeri serta diikuti oleh 300 kiai/nyai muda tersebut menghasilkan Deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan (Humanitarian Islam, Al-Islam lil Insaniyyah).

Deklarasi Humanitarian Islam terdiri dari 112 poin ini berisi pandangan GP Ansor tentang akar masalah kemelut di dunia Islam dan problem dunia yang terkait dengan isu Islam dan pihak-pihak (aktor negara dan non-negara) yang terlibat.

Deklarasi ini juga memuat solusi atas masalah tersebut serta peta jalan solusi masalah tersebut. Prinsipnya adalah rekontekstualisasi ajaran Islam dalam penyelesaian masalah-masalah terkait Islam dewasa ini, sebagaimana teladan sejarah yang diwariskan para wali dan pengalaman rekontekstualisasi Islam (Nusantara) dalam realitas Indonesia modern. (NU online 6 Juli 2017).

Pada 26-29 Juni 2017, KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam Syuriyah PBNU yang juga Emissary GP Ansor untuk Dunia Islam, dan Adung Abdul Rochman, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor, berada di Washington DC dalam rangka mempromosikan Humanitarian Islam ke berbagai pihak strategis; pengambil kebijakan AS, tokoh-tokoh negarawan AS, lembaga think thank, lembaga interfaith, Dubes Afghanistan dan seterusnya.

Ikut mendampingi dalam agenda tersebut Charles Holland Taylor yang juga Emissary GP Ansor untuk PBB, AS dan Eropa. Merespons dengan sangat positif. Mereka bahkan mengusulkan membuka kantor di Washington DC untuk menguatkan promosi Humanitarian Islam ini ke pengambil kebijakan dan kelompok strategis di AS dan diterimanya inspirasi gagasan dari Indonesia ini ke seluruh dunia.

Humanitarian Islam bisa dimaknai sebagai gerakan global yang didedikasikan untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan, perdamaian dunia dan harmoni peradaban yang terinspirasi oleh Islam rahmatan lil-‘alamin, yang dimanifestasikan dengan merekontekstualisasi ajaran Islam sesuai dengan realitas kekinian.

Humanitarian Islam tidak akan berusaha menjadi ideologi supremasis yang akan menaklukkan siapa pun, juga tidak datang untuk menghancurkan, dan oleh karenanya mencegah penyalahgunaan agama untuk mempromosikan kebencian, supremasi dan kekerasan sektarian.

Konsep terus digelorakan hingga mendunia. Piagam Persaudaraan Kemanusiaan pun ditandatangi bersama oleh Paus Fransiskus dan Tetua Agung Al Azhar, Syaikhu Ahmad Al Tayeb di Abu Dhabi pada Februari tahun 2019.

Setelah musyawarah seharian pada hari Rabu, 15 Januari 2020, di Gregorian University, Roma, malam harinya delapan belas tokoh agama-agama Ibrahim diterima oleh Sri Paus dalam audiensi pribadi di kediaman di kompleks Basilica, Vatikan.
***
Katib Aam Syuriah PBNU KH Yahya Staquf dari Vatikan melaporkan, kepada Sri Paus dijelaskan tentang hasil-hasil diskusi hari itu, termasuk penegasan dukungan terhadap Piagam Persaudaraan Kemanusiaan yang ditandatangi bersama oleh Paus Fransiskus dan Tetua Agung Al Azhar, Syaikhu itu Ahmad Al Tayeb.

Sri Paus mengingatkan, forum Inisiatif Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative) adalah wahana untuk mengedepankan ikhtiar-ikhtiar. Tapi dalam masalah apa pun yang dihadapi, kita harus kembali ke akar keberadaan kita, yaitu saudara sesama manusia.

Diskusi yang digelar sejak pagi hingga sore mengerucutkan sikap dan langkah bersama dalam menghadapi kemelut kemanusiaan dewasa ini, yang sangat kental diwarnai oleh konflik antar kelompok agama.

Sam Brownback, Duta Besar Keliling Amerika Serikat Untuk Kebebasan Beragama, pada awal diskusi menyampaikan keprihatinan yang mendalam.
Menurutnya, apabila kita biarkan berkembangnya konflik antara agama ini, sudah pasti ujungnya saling bunuh di antara kita semua.

Unkapan itu persis seperti analisis yang dipaparkan dalam “Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor Tentang Islam Untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam)”, pada tahun 2017.

Reverand Thomas Johnson dari World Evangelical Alliance menekankan deklarasi saja tidak cukup, karena belum tentu banyak orang mau sungguh-sungguh membaca dan mempelajarinya. Yahya Staquf dari Nahdlatul Ulama ,(NU), menimpali, siapa pun yang membuat deklarasi harus siap menindaklanjutinya dengan langkah-langkah strategis yang nyata. Ia pun memberi contoh dengan menjelaskan kiprah Nahdlatul Ulama dalam mambangun strategi transformatif melalui aktifisme sosial, yaitu melakukan pelayanan pada masyarakat dalam arti luas, termasuk melindungi hak-hak kelompok minoritas.

Chief Rabbi David Rosen menambahkan perlunya kalangan politik menengok agama-agama sebagai basis strategi resolusi konflik, bukan hanya pendekatan militer dan ekonomi.

Ambassador Sam Brownback pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas segala yang telah dilakukan oleh Nahdlatul Ilama selama ini dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.(Detakpos,16/2/2020)

Musyawarah pada akhirnya mencapai kesepakatan untuk terjun ke wilayah konflik demi mengupayakan jalan keluar.

Yahya Staquf pun mengingatkan bahwa hal itu harus dilakukan dengan strategi yang komprehensif dan terkonsolidasi, dengan dukungan instrumen-instrumen dan sumberdaya-sumberdaya yang penuh.

*)Penulis: Wakil Rois Syuriah MWCNU Dander, Bojonegoro.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini