oleh

UPN”V” Yogyakarta Melakukan Pendampingan Di Sentra Batik Sleman

Oleh Puryani, S.T., M.T.

Industri kecil dan menengah (IKM) telah tumbuh dan berkembang dengan pesat di Yogyakarta, diantaranya adalah produk batik. Batik menjadi salah satu keunggulan dan daya tarik yang mampu mendukung Yogyakarta sebagai tujuan pariwisata.

Ditambah lagi dengan dikukuhkannya hari batik nasional setiap 2 Oktober membuat industri batik di Indonesia semakin terbuka untuk dikembangkan.

Guna mendukung pengembangan industri batik khususnya di wilayah Yogyakarta, Tim Pengabdian kepada Masyarakat yang terdiri dari staf pengajar Jurusan Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta, yaitu Puryani dan Laila Nafisah.

Tim bekerjasama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) DIKTI telah melakukan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat di dua industri Batik di wilayah Sleman Yogyakarta, yaitu Industri Batik Plalangan dan Industri Batik Mantaran.

Industri batik Plalangan berada di Padukuhan Plalangan Pandowoharjo Sleman Yogyakarta. Diberi nama industri batik Ayu Arimbi dengan ketua Ibu Tatik Susilowati, dengan anggota sebanyak 16 orang. Produk yang dihasilkan berupa batik cap dan batik tulis.

Ciri khas yang dikembangkan dan menjadi daya saing industri batik ini adalah penggunaan kombinasi warna sintetis dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Para pengrajin terdiri dari ibu-ibu rumah tangga.

Proses produksi masih dilakukan secara sederhana dan menggunakan alat seadanya. Instalasi pengolahan limbah dengan bahan sistentis juga masih sederhana meskipun limbah yang dihasilkan tergolong mengganggu.

Daerah pemasarannya masih terbatas meliputi DIY dan sekitarnya. Pemesanan dari luar Yogyakarta, apalagi luar negeri masih sangat jarang.

Hal ini disebabkan strategi pemasaran yang dilakukan masih secara sederhana dengan cara menunggu pemesanan dari pelanggan di sekitar Sleman dan mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman.

Selain itu, permasalahan keunikan khusus dari motif batik dengan memanfaatkan kearifan lokal Kabupaten Sleman belum di-explorasi ke dalam produk batik. Sedangkan Industri batik Mantaran berada di Padukuhan Mantaran Trimulyo Sleman Yogyakarta. Anggota industri batik Mantaran sebanyak 20 orang yang terdiri dari 16 ibu dan 4 bapak, yang diketuai oleh Ibu Rita Lestari.

Sebagian besar anggota batik Mantaran adalah ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya sebagai buruh tani. Pada awal industri ini dibentuk, ibu-ibu rumah tangga anggota industri batik ini tidak memiliki keahlian membatik.

Namun setelah pada tahun 2015 mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, akhirnya terampil menorehkan canting di atas lembaran kain.

Keunikan dari batik Mantaran adalah semua produksinya pada awalnya merupakan batik tulis yang dilakukan secara manual. Faktor daya saing dari batik Mantaran adalah fokus menggunakan zat pewarna alam. Warna alam sengaja dipilih karena selain diminati pasar juga sangat aman bagi kesehatan dan lingkungan sekitar.

Zat warna alam yang digunakan untuk mewarnai batik diambil dari bagian-bagian tanaman, seperti kayu, daun, bunga, akar dan kulit buah. Batik warna alam tampil ekslusif karena tidak bisa diproduksi secara masal. Setiap proses pewarnaan menghasilkan warna yang berbeda dalam setiap kain.

Hal ini karena penggunaan zat warna alam sangat tergantung pada cuaca, jenis tumbuhan yang digunakan dan umur tanaman. Sama dengan batik Plalangan, permasalahan motif batik juga belum memanfaatkan kearifan lokal Kabupaten Sleman ke dalam produk batik.

Seperti di industri batik Plalangan, proses produksi di industri batik Mantaran masih dilakukan secara sederhana. Perbedaanya proses dilakukan tanpa menggunakan proses cap, semuanya dilakukan dengan manual yang disebut batik tulis.

Namun pada saat ini industri batik Mantaran sudah menghasilkan batik menggunakan proses cap. Peralatan yang digunakan untuk proses cap ( meja cap) merupakan pinjaman dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang dimensinya tidak sesuai dengan postur tubuh yang mengoperasikannya (tidak ergonomis).

Selain itu lingkungan kerjanya juga masih banyak yang harus diperbaiki. Penghasilan yang diterima pengrajin tergantung dari besarnya produk yang terjual. Jika ditinjau secara seksama di lapangan, permasalahan yang dihadapi kedua industri batik tersebut hampir sama.

Diantaranya adalah belum adanya motif khas yang berbasis kearifan lokal Sleman, teknologi proses penjemuran yang memadai terutama pada saat musim hujan, belum adanya teknologi yang mempercepat proses pembuatan pola pembatikan.

Selain itu juga belum adanya teknologi yang mempercepat proses pelorotan malam, belum adanya instalasi pengolahan limbah yang memadai, dan belum adanya teknologi yang mempercepat proses pelorotan malam.

Berbagai motif Batik Sleman Yogyakarta. (Istimewa)

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi di lapangan, maka secara umum kegiatan-kegiatan program PKM yang dilakukan oleh Puryani dan Laila Nafisah dalam mencari solusi permasalahan tersebut diatas adalah melakukan kegiatan-kegiatan berupa pemanfaatan alat hasil rancangan mahasiswa (Skripsi) di Jurusan Teknik Industri melalui pelatihan-pelatihan dan pendampingan.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan adalah:
a) Focus Group Discussion untuk mendesain motif batik khas dengan memanfaatkan kearifan lokal Sleman yang akan didaftarkan sebagai HKI di Kemkumham. Hasil dari kegiatan ini diperoleh kesepakatan untuk medaftarkan motif khas dari Industri Batik Plalangan berupa motif bambu, sedangkan dari Industri Batik Mantaran berupa motif melon
b) Memberikan pelatihan serta pendampingan penggunaan peralatan penjemuran yang lebih efektif dan efisien
c) Memberikan pelatihan serta pendampingan penggunaan sarana kerja dan peralatan berupa meja pemolaan yang ergonomis untuk membuat pola batik
d) Memberikan pelatihan serta pendampingan penggunaan peralatan untuk pelorotan malam
e) Melakukan studi banding pada industri batik yang telah membuat instalasi pengolahan limbah (IPAL), serta menerapkannya

Dengan adanya program PKM ini diharapkan kedua industri batik tersebut dapat berkembang dan meningkatkan daya saing dalam bentuk peningkatan kuantitas, kualitas, dan nilai tambah sehingga pendapatan anggota industri batik Plalangan dan Mantaran dapat meningkat. (*)

(Puryani, S.T., M.T. adalah Alumnus S2 ITB Bandung dan sekarang ini dosen Teknik Industri di UPN”V” Yogyakarta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini