oleh

BNP2TKI Siap Fasilitasi Penanganan Jenazah Milka 

JakartaDetakpos-BNP2TKI siap menindaklanjuti jika hasil penyelidikan Kepolisian RI berbeda dengan keterangan dari hasil otopsi Rumah Sakit Umum Pulau Pinang.

”Perlu kami sampaikan bahwa KJRI Pinang didukung LO Polri juga melakukan pendalaman atas kasus ini dengan meminta keterangan lebih lanjut kepada dokter forensik di Rumah Sakit Umum Pulau Pinang yang melakukan otopsi,” ujar Sekretaris Utama BNP2TKI, Hermono, Rabu 14/3).

Selain mendalami penyebab kematian Milka Boimau, BNP2TKI juga akan meminta Polda₩ NTT untuk mendalami prosedur keberangkatan Milka ke Malaysia karena ada indikasi telah terjadi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sebagaimana terlihat dari adanya perbedaan yang mencolok usia Milka menurut keluarga, dan yang tertera dalam paspor.

Selain itu, keberangkatan Milka ke Malaysia pun tidak tercatat dalam Sistem Komputerisasi Tenaga Kerja LuarNegeri (SISKO-TKLN) BNP2TKI. Menurut informasi KJRI Penang, Milka mulai bekerja pada tahun 2014 kepada majikan yang sama.

Menurut pihak majikan, Milka telah menderita sakit sebelumnya dan telah diberikan pengobatan, namun informasi majikan sedang diverifikasi oleh KJRI Penang. “Kami sangat prihatin dengan banyaknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT yang meninggal dunia di negara penempatan karena berbagai sebab yang mana sebagian besar diberangkatkan secara illegal oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.” ungkap Hermono.

“Menurut catatan kami, pada tahun 2016 sebanyak 46 MI asal NTT meninggal dunia:dua diantaranya diberangkatkan secara prosedural, kemudian pada tahun 2017 tercatat sebanyak  62 PMI meninggal dunia, dan hanya satu PMI yang diberangkatkan secara legal. Lalu pada tahun 2018 ini dilaporkan sebanyak 15 PMI meninggal dunia dan seluruhnya diberangkatkan secara illegal.

Melihat maraknya penempatan PMI asal NTT secara illegal, dalam waktu dekat BNP2TKI akan mengundang pemangku kepentingan terkait di NTT untuk mengambil langkah bersama guna memperkuat pencegahan pengiriman PMI secara non-prosedural.

Milka Boimau, meninggal di Penang pada 07 Maret 2018 dan terdapat bekas jahitan pada tubuhnya, Sekretaris Utama BNP2TKI, Hermono, menyatakan bahwa jahitan pada tubuh jenazah adalah akibat dari otopsi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Pulau Pinang.

Otopsi dilakukan atas permintaan kepolisian Pulau Pinang guna memastikan penyebab kematian Milka Boimau. Berdasarkan Surat Keterangan Rumah Sakit Umum Pulau Pinang yang telah melakukan otopsi  bahwa almarhumah meninggal karena sakit pneumonia. Sesuai dengan Hukum Acara Pidana Malaysia (Kanun Acara Jenayah/Criminal Procedure Code) akta 593 section 330 dan 331, Pejabat Kepolisian ataupun Pejabat Kesehatan (dokter) dapat memerintahkan rumah sakit pemerintah untuk melakukan otopsecepatnya guna memastikan penyebab kematian seseorang.

Hukum Acara Pidana Malaysia juga tidak mengharuskan adanya persetujuan pihak keluarga terlebih dahulu untuk dilakukan otopsi, terang Hermono yang merangkap sebagai Plt. Deputi Perlindungan BNP2TKI.

Lebih lanjut Hermono menyampaikan, terkait rencana keluarga membuat laporan kepada Kepolisian RI karena adanya kecurigaan terjadi tindak kekerasan yang dialami Milka, kami mempersilahkan karena itu merupakan hak keluarga.”

“Kami memandang penyelidikan yang dilakukan oleh Kepolisian justru dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian Milka yang sesungguhnya, sehingga tidak menimbulkan spekulasi  di masyarakat.” tambahnya. (d2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini