oleh

BNPB Rilis Sandiwara Radio Episode 2

Jakarta – Detakpos – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sandiwara radio Asmara di tengah Bencana (ADB) episode 2, yang disiarkan mulai  Rabu, 7 Juli 2017.

BNPS melanjutkan ADB episode 2 karena mempertimbangkan penyiaran ADB episode 1 tahun lalu sukses diterima masyarakat.

“BNPB memanfaatkan sandiwara radio untuk mengkampanyekan budaya sadar bencana secara luas kepada masyarakat,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam release yang diterima detakpos di Bojonegoro, Selasa (6/6/2017).

Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan bahwa BNPB memanfaatkan radio karena media ini berbiaya rendah, khususnya tepat untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.

Radio, kata dia, sangat efektif dalam memberikan informasi kepada masyarakat yang terdampak bencana ketika alat komunikasi lain tidak berfungsi.

“Radio dapat digunakan sebagai penyambung hidup atau “lifeline” ketika krisis dan saat bencana terjadi,” kata dia m pada peluncuran ADB episode 2 yang dikemas dalam Kompasiana Nangkring pada Selasa (6/6) di Graha BNPB, Jakarta.

Di sisi lain, sutradara ADB Haryoko menyampaikan bahwa masyarakat dewasa ini mulai meninggalkan media radio seiring perkembangan televisi. Haryoko mengatakan bahwa pada 1990-an masa sandiwara radio menjadi primadona di Indonesia.

“Televisi masuk dan sandiwara radio kurang diminati. Namun masyarakat di daerah masih membutuhkan hiburan melalui sarana radio,” kata Haryoko di hadapan para blogger Kompasiana.

Salah satu pengisi suara yang telah akrab di telinga kita, Ferry Fadli mengatakan bahwa dirinya tertarik untuk mengisi suara pada ADB. Hal tersebut salah satunya karena sandiwara radio ini memiliki pesan untuk masyarakat, khususnya dalam konteks kebencanaan. Ferry juga mengatakan bahwa kita sudah lama tidak fokus mendengar.

“Melalui sandiwara radio ini kita seperti diingatkan kembali supaya kita juga mendengar orang lain,” kata Ferry.

Sang pengisi suara Jatmiko ini juga menambahkan bahwa budaya mendengar dapat menciptakan imajinasi yang kreatif. Hal senada juga disampaikan oleh Pengamat Komunikasi Politik Effendi Gazali. Menurut Effendi, media radio memiliki keunggulan sendiri.

“Melalui siaran radio, pendengar memiliki ‘hak cipta’ sendiri (terhadap para tokoh dalam sandiwara radio),” kata Effendi. Hal tersebut menjelaskan bahwa setiap individu memiliki imajinasi seperti karakter atau pun fisik, terhadap tokoh dalam sandiwara radio tersebut.

Sementara itu BNPB menyiarkan ADB ini bekerja sama dengan 80 stasiun radio, 60 stasiun radio swasta dan 20 radio komunitas. Kedelapan puluh stasiun tadi tersebar di 20 provinsi. Sandiwara radio ADB sebelumnya mencatat sukses dengan 43 juta pendengar yang kala itu tersiar di 20 stasiun radio. (tim detakpos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini