oleh

Bupati Banyuwangi Motivasi Tentang Inovasi di Bojonegoro

BojonegoroDetakpos – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberi motivasi tentang inovasi dan kreativitas kepada ratusan anak muda di Hotel Aston Bojonegoro, kemarin (30/7), di sela-sela acara Ikatan Pelajar NU. Bupati muda itu membagi pengalaman menumbuhkan budaya inovasi dan kreativitas di daerahnya.

”Inovasi dan kreativitas adalah satu kesatuan. Inovasi membutuhkan kreativitas. Kreativitas itu berarti tidak menyerah pada keadaan. Tidak mengeluh. Dalam kondisi yang terbatas, bagaimana bisa survive, itulah kreativitas yang nantinya melahirkan inovasi,” kata Anas.

Anas mengatakan, di lingkungan pemerintahan, inovasi dan kreativitas menjadi kata kunci untuk meningkatkan pelayanan publik. ”Sekarang sudah bisa lagi pelayanan publik yang biasa-biasa saja. Semua dituntut cepat. Maka kita perlu sikap inovatif dan kreatif. Begitu juga anak muda, kalau tidak inovatif dan tidak kreatif, pasti akan kalah dengan orang lain. Apalagi sekarang era kompetisi global,” ujar Anas yang pernah menjadi anggota MPR termuda.

Anas lalu mencontohkan sejumlah inovasi yang lahir di Banyuwangi. Di antaranya kebijakan pariwisata yang membawa Banyuwangi menjadi juara dunia inovasi kebijakan tingkat dunia dari Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (The United Nations World Tourism Organization/UNWTO) pada 2016 mengalahkan negara-negara lain di dunia.

Lalu ada inovasi kebijakan ”Bayi Lahir Procot Pulang Bawa Akta” di mana bayi bisa langsung mendapat akte kelahiran tanpa menunggu banyak waktu. Banyuwangi juga menjadi kabupaten pertama dan satu-satunya di Indonesia yang meraih nilai A untuk Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Sakip).

”Karena saya memberi kepercayaan dan kebebasan kepada seluruh jajaran, sekarang semua berlomba berinovasi. Antar-Puskesmas berlomba, mulai dari program gizi anak, sanitasi, sampai menekan angka kematian ibu/bayi. Antar-desa berlomba, dari percepatan layanan berbasis TI hingga jam layanan sampai malam hari. Antar-kecamatan bersaing, dari layanan jemput bola sampai menyinergikan zakat dengan pengentasan kemiskinan,” papar Anas.

”Bahkan, tiga inovasi Banyuwangi pun dipilih Kementerian PAN-RB untuk diikutkan di ajang internasional United Nations Public Service Award 2017 oleh PBB,” imbuh Anas.

Berkat kinerja bersama itu, pendapatan per kapita warga Banyuwangi melonjak dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat dari level 20 persen menjadi 8,79 persen pada 2016.

“Sekarang pun telah ada tiga perguruan tinggi negeri, mulai dari sekolah pilot negeri, politeknik negeri, dan Universitas Airlangga kampus Banyuwangi yang bakal jadi embrio universitas negeri Banyuwangi. Sekarang lebih dari 1000 mahasiswa dari 18 provinsi sudah berkuliah di Banyuwangi,” papar Anas.

Dalam kesempatan tersebut, Anas juga memotivasi kaum muda untuk berani terjun berwirausaha, jangan hanya bercita-cita menjadi pegawai atau PNS. ”Saatnya berani terjun berbisnis, membuka lapangan pekerjaan. Dengan membuka usaha, para mahasiswa ikut membantu negara ini untuk terus maju,” ujarnya.

Menurut Anas, mengharap menjadi pegawai saat ini sudah kurang relevan, karena investasi dunia usaha semakin padat teknologi. ”Dulu investasi Rp 100 miliar bisa menyerap 500 karyawan, sekarang mungkin hanya 50 orang karena semua sudah serba otomatis menggunakan mesin. Maka pilihan bagi kaum muda saat ini adalah membangun spirit kewirausahaan, berani terjun, berani gagal lalu bangkit lagi,” kata Anas. (tim detakpos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini