oleh

In Memoriam Peter Kasenda

BekasiDetakpos– Indonesia kembali berduka. Sejarawan senior, Peter Kasenda (61) meninggal dunia pada Jumat (07/09) di rumah mendiang, Perumahan Jl. Bukit Dago Raya Blok T, Perumahan Sarigaperi, Jatibening Baru, Pondok Gede. RT06/RW06, Bekasi.

Mendiang menyelesaikan studi pada Jurusan Sastra Perancis dan Sejarah di Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia. Hingga akhir hayatnya, masih aktif mengajar sebagai dosen di Kampus Merah Putih Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Jakarta dan Universitas Bung Karno (UBK).

Sebagai penulis, Pak Peter demikian panggilan akrabnya, sangat produktif menghasilkan karya-karyanya. Tulisannya pertama kali dimuat pada harian Prioritas pada Oktober 1986. Peter menjadi kontributor buku-buku seperti Tokoh Indonesia dalam Era Pembangunan (1987). Sebagai penulis biografi dan pemikiran Bung Karno yang cukup menonjol dari tangannya lahir 90 Tahun Bung Karno (1991); Kembali ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2010); dan, Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011) dan Hari-Hari Terakhir Sukarno.

Sebagai pencatat tokoh dan peristiwa yang liris, karya penulis kelahiran Bandung, 13 Januari 1957 juga diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, yakni bukunya bertajuk Zulkifli Lubis Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI-AD (2012); Sebagai managing editor turut menyunting Non Aligned Movement Toward The Next Millenium Volume II dan III (1985) terbitan Media Indonesia dan Grup Bimantara; Bung Karno tentang Marhaen dan Proletar (1999); Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933(2010).

Keterlibatannya di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) juga mewarnai karya-karyanya. Beberapa diantaranya menulis kisah ketua umum GMNI generasi perdana, John Lumingkewas: Merah Darahku, Putih Tulangku, Pancasila Jiwaku (2010); Soeharto Penerus Ajaran Politik Soekarno (2012); Mereka Bilang Kita Orang Indonesia (2010); Kembali ke Cita-Cita Proklamasi 1945 (2011).

Setahun terakhir, ditugaskan pada Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) hingga perubahan status ke Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Pak Peter dan tim mengemban tugas berat yang tengah dijalaninya, yakni merumuskan dokumen naskah otentik Hari Lahir Pancasila.

Patut disyukuri, selain beberapa kontribusi penting bersama tim di BPIP, dalam jagat maya pemikiran mendiang telah diabadikan.

Sementara para rekan sejawat di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), serta kampus UNTAG dan UBK tempat mendiang masih tercatat sebagai dosen, juga sangat berduka. Tak ketinggalan pula para alumni UI dan SMA PSKD1 sebagai almamaternya.

Rekan SMA-nya tidak percaya kepergian Peter. Sebab mereka baru saja melangsungkan reuni. Marjuki teman SMA PSKD1(angkatan 73 – alumni 76), memandang Peter sebagai teman yang sangat baik. “Kehangatan pribadinya membuat Peter suka mengobrol. Sama sekali tidak pernah nakal apalagi menyakiti hati orang lain. Sangat santun. Pembawaannya sebagai pemikir dan penulis juga membuatnya irit komentar”, cetus Marjuki.

Kesan lain datang dari Anton (UI, Antropologi 80) yang mengenal Peter sebagai sosok humoris. Rumah yang berdekatan membuat mereka tidak cukup bertegur sapa, namun juga saling membanyol layaknya sahabat. “Awas ada gorila lewat, pesan saya via WA,” ejek Anton setiap Peter lewat depan rumahnya sepulang kerja.(d/4)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini