Penawarta: Jarwati
Bojonegoro – Detakpos – Indonesia memiliki sanitasi terburuk di urutan kedua di dunia setelah India, disebabkan keterbatasan dana yang dimiliki Pemerintah untuk mengatasi sanitasi, juga kebocoran pipa masih 33 persen dan minimnya ketersediaan air baku,” kata Pembicara dari Kementerian PU Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan air Minum Esti di Bojonegoro, Minggu (19/11).
Namun, menurut dia, Pemerintah mantargetkan pada 2019 mendatang seluruh masyarakat bisa memiliki sanitasi, akses air bersih, dan tidak kumuh lagi.
Hanya saja, menurut dia, anggaran untuk mengatasi sanitasi dan air bersih yang tersedia sekitar Rp128,3 triliun, tetapi kebutuhan jauh lebih besar.
“Caranya ya kita harus mengandeng berbagai pihak untuk mengatasi sanitasi dan air bersih,” kata dia dalam kegiatan edukasi wartawan dan blogger terkait sanitasi dan air minum yang digelar water.org.
“Kami juga merasa kesiapan dari masing-masing daerah di Indonesia untuk implementasi pembangunan dibidang kebutuhan dasar masyarakat masih minim. Sehingga kami mengharapkan, agar masyarakat jangan tergantung dengan pemerintah,” ucapnya.
Dia mengklaim capaian pemerintah pusat untuk membebaskan masyarakat dari kekurangan air bersih, sanitasi, dan tempat kumuh ditahun 2017 sudah lebih dari 50 persen.
Ia merinci untuk air minum sudah tercapai 70 persen, sedangkan untuk sanitasi sudah mencapai 62,27 persen.
“Kebutuhan dana kami untuk menjalankan program pembangunan tersebut sebenarnya mencapai Rp830 triliun. Tetapi dalam perencanaan strategi hanya diberi Rp128,3 triliun, ” ucapnya menambahkan. (*/detakpos)






