oleh

Petani Lamongan Manfaatkan Agens Hayati Antisipasi Wereng

LamonganDetakpos – Petani Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Kusairi (40) masih teringgat hama wereng yang menyerang tanaman padinya lima tahun lalu.

Tetapi, ia tidak sendirian karena semua petani di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo di daerah setempat juga mengalami serupa yaitu tanaman padinya terganggu serangan hama wereng sehingga selalu merugi.


“Ketika itu petani di Desa Tejoasri menggunakan obat kimia untuk membunuh hama wereng yang menyerang tanaman padi,” kata Kusairi, disela-sela mengikuti panen tanaman padi di desa setempat dengan Bupati Lamongan Fadeli, pekan ini.

Sebagaimana disampaikan Kusairi, harga obat kimia yang dimanfaatkan membunuh hama wereng Rp130 per botol.            

Hasilnya wereng mati, dan biota lain yang bermanfaat, termasuk musuh alami hama wereng juga ikut mati.

“Tapi tanaman padi sering kering sebelum tiba waktunya panen,” ujarnya.

Kondisi itu kemudian menjadi berbalik ketika ia mulai mengenal agens hayati dari Haji Khamim, dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan (UPT Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Laren).

“Saya termasuk yang pertama mau mencoba menggunakan agens hayati,” katanya menjelaskan.

 Di lain pihak, menurut dia, para petani lainnya  belum banyak yang mau menggunakan agens hayati. Padahal harganya cukup murah hanya Rp 0 ribu per botol kemasan dengan isi 1 liter.

Itupun bisa digunakan berkali-kali, karena hanya dibutuhkan sekitar 20  mililiter untuk setiap tangki semprot.
            
Petani Membuktikan
“Kebanyakan  petani memang begitu. Baru mau menggunakan cara baru, ketika sudah “nyatakne” (membuktikan),dengan kepala sendiri, ” katanya.

Menurut dia, para petani setelah tahu kenyataan tanaman paling sehat, kemudian para petani lain mulai ikut-ikutan
menggunakan agens hayati.

Dampaknya tidak hanya serangan hama wereng mereda, bahkan hasil produksi yang sebelumnya berkisar 9 kuintal  per bumi 100 ( 1 hektare : bumi 750), dengan agens hayati bisa mencapai 11 kwintal per bumi 100.
            
Tidak hanya itu, katanya, manfaat lain dengan menggunakan agens hayati, kebutuhan pupuk kimia juga berkurang. Jika biasanya dibutuhkan 40 kilogram (campuran urea, SP 36 dan Phonska), kini hanya dibutuhkan 25 kilogram.

Bersamaan dengan itu, para petani Desa Tejoasri juga rutin mengikuti Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Salah satu yang kini diterapkan dari SL-PTT adalah penggunaan limbah padi berupa jerami menjadi pupuk kompos.
            
Sebelumnya,  limbah padi ini hanya dikumpulkan di tengah sawah kemudian dibakar. “Ini kata orang-orang dulu, jerami nanti jadi rumah tikus, jadi dibakar saja. Rupanya bisa bermanfaat untuk pupuk, “ katanya menjelaskan.

Tahun ini desanya mendapat bantuan bibit padi dari Bogor (Balitbang) varietas baru, IF8. Hasilnya menurut dia sangat bagus. Di sawah bumi 250  bisa menghasilkan 2 ton.
 
Keengganan  petani untuk merepakan teknologi baru juga diketahui Bupati Lamongan Fadeli. Karena itu ia terus mendorong Dinas TPHP untuk mensosialikan contoh  sukses penerapan teknologi baru kepada petani lain.

Itu pula yang mendasari alasan Fadeli getol membuka demplot pertanian jagung modern di Banyubang serta padi di sejumlah kecamatan. Sehingga petani bisa mengetahui contoh sukses dan menerapkan di lahan pertanian miliknya.

Dia  juga mengapresiasi inovasi Pemerintah Desa Tejoasri yang mau  mengalokasikan Dana Desa untuk bidang pertanian. “Jalan Usaha Tani juga  bisa menggunakan Dana Desa. Ini bisa dicontoh desa-desa lain, ” katanya.

Data DTPHP Lamongan menyebutkan, realisasi luas tanam padi di 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan tahun ini seluas 12.297 hektare. Itu adalah selama Musim  Tanam (MT) Oktober 2016 sampai dengan Maret 2017.

Luasan tersebut melebihi sasaran yang  ditetapkan untuk periode MT Oktober 2016 hingga Maret 2017, yakni hanya seluas 88.524 hektare.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas TPHP Aris Setiadi melalui Kabag Humas dan Protokol Agus Hendrawan, Kamis (27/7/2017).

Sementara secara keseluruhan, sampai dengan bulan Juni  2017, sudah realisasi tanam padi sebesar 92,22 persen atau seluas 148.131 hektare dari target 160.633 hektare.

Kecamatan Sugio yang  target tanamnya paling luas diantara lainnya, yakni seluas 11.174 hektare. Sedangkan realisasi tanamnya sudah seluas 12.655  hektare.

Ada sembilan kecamatan lain yang bisa melampaui target tanam. Yakni Sukorame, Bluluk, Sambeng, Kembangbahu, Sarirejo, Karangbinangun, Solokuro, Paciran dan Brondong. (d1/detakpos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini