oleh

Seluruh Pendekar Pagar Nusa Diajak Jaga Kiai

Jakarta-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa NU Muchammad Nabil Haroen mengajak semua pendekar untuk bergandengtangan menjaga kiai dan merapatkan barisan.
Secara berkala, Gus Nabil meminta pendekar harus berkoordinasi

dengan pengurus NU dan aparat untuk menjaga keamanan juga perlu peran serta masyarakat mewujudkan dan menciptakan rasa aman. 

”Dan untuk menciptakan rasa aman, tidak perlu terlebih dahulu diciptakan rasa tidak aman,”tutur Gus Nabil di Jakarta, Selasa (20/2).

Soal pembelaan terhadap kiai, menurut dia, tidak perlu dipertanyakan lagi. ‘”Semboyan kita adalah, bela kiai sampai mati,’
‘tambah dia.Artinya apa, lanjut Nabil, tidak akan pernah mundur sejengkal pun ketika para kiai diteror, diancam, dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. 

”Dalam membela Kiai, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri,”ujar dia.

Menurut Nabil, disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga para kiai kita. Apakah kita menjaga kiai karena kiai tidak mampu menjaga dirinya, ”Tidak! Beliau sudah tidak ambil pusing soal

keamanan dirinya. Karena bagi beliau yang terpenting adalah bagaimana mengayomi dan menemani umat dan masyarakat dan kehidupan sehari-harinya. 

”Dan soal menjaga kiai adalah bagian dari kewajiban kita sebagai Pagar NU dan Bangsa,”tegas dia.Oleh karenanya, dia menyerukan untuk selalu sowan kiai, karena banyak hal yang akan kita terima dari beliau. Tidak hanya menjaga energi, tapi juga sekaligus menjaga beliau sepanjang waktu.

” Kiai kita adalah selalu teduh dalam bersikap, ramah dalam ber-mu’asyarah dan bijak dalam bertindak. Kiai mengajari kita bagaimana beretika dan bersopan santun.” 

”Kita juga belajar apa dan bagaimana arti penting tabayyun dari beliau. Pelajaran banyak dan dahsyat ini akan selalu kita temui dalam keseharian kiai, bukan hanya teori.

Dan teror atau ancaman yang kini tengah terjadi adalah bagian kecil dari perjuangan kiai’

“Saya sangat mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman terror kepada para pemuka agama, terlebih pada para panutan kita. Seringkali saya jumpai bahwa fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama.

Sebaran informasi yang tidak bertanggungjawab itu sudah dibumbui, ditambahi penyedap, supaya menjadi gorengan, murahan Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast Kita terima dan langsung kita share, tanpa terlebih dahulu melakukan ricek. Sehingga akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. Atas berita yang kita terima, jika kita tidak mampu melakukan ricek, akan lebih baik jika kita diamkan dan menunggu informasi valid dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai satu contoh, Nabil mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Al Falah Ploso (Kediri) tempo hari. Begitu mendapati sesuatu yang mencurigakan, langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses.”Inilah karakter pesantren yang menjadi jati diri kita. Kejadian di Al Falah Ploso hampir saja menjadi isu besar yang tidak bertanggung jawab jika tidak segera diambil langkah antisipatif?”tutur dia.Dia mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman terror kepada para pemuka agama, terlebih pada para panutan kita,’

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini