oleh

Dua ”Srikandi”: Mahfudhoh Rajin Diba’an, Anna Sindiran

Analisis Berita: Oleh H A Adib Hambali(*)

COBLOSAN untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, kurang sekira tiga bulan lagi. Pilkada digelar pada 27 Juni 2018.Empat pasang cabup-cawabup akan berkompetisi untuk menuju lantai 7 Gedung Pemkab Bojonegoro.

Mereka adalah pasangan Suhadi Moelyono-Mitro’atin (1), Mahfudhoh-Kuswiyanto (2), Anna Mu’awanah-Wawan (3) dan H Basuki-Pudji Dewanto (4)

Sejak ditetapkan menjadi calon dan masuk masa kampanye Pilkada, masing masing calon terus melakukan pendekatan dan pengenalan ke masyarakat untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas mereka.

Mulai dari ngelawang dari pintu ke pintu atau lewat forum forum pertemuan majelis ta’lim, pengajian, paguyuban dan lain lain, mereka lakukan.

Selain itu juga melalui pemasangan baliho, panflet yang terpampang di jalan raya, kampung dan seterusnya.Tidak heran jika tempat tempat strategis dan perempatan jalan raya marak gambar gambar penuh senyum dan berharap.

Tidak terkecuali calon ‘Srikandi’ Mahfudhoh dan Anna Muawanah yang dalam berbagai survei internal masing-masing partai bersaing ketat di urutan pertama dan kedua, menurut versi tim sukses dan partai pendukung.

Yang menarik untuk diamati adalah cara pendekatan ‘Neng’ Mahfudhoh, panggilan putra tokoh mantan rois Syuriah PCNU Lumajang itu. Tentu saja karena dia seperti kembali berada di ”habitat”-nya.

Istri mantan bupati Suyoto itu dalan berbagai kesempatan rajin bertemu masyarakat dalam acara yang dikemas dalam bentuk pengajian dan bershalawat Nabi Muhammad SAW, lewat pembacaan sastra Kitab karya Syeh Abdurrahman Al-diba’i atau masyarakat  sering menyebut diba’an bersama jamaah-jamaah di majelis pengajian.

Tentu sangat beralasan karena alumnus pesantren Jombang ini diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Pendekatan melalui budaya tradisional masyarakat santri ini adalah keniscayaan untuk mendapat simpati pemilih dari kelompok santri NU.

Karena seperti kembali ke habitat itulah tidak berlebihan jika suaminya Suyoto dalam berbagai kesempatan mengakui, lebih mudah Mahfudhoh ketimbang dirinya untuk memenangi Pilkada di Bojonegoro.

Pasalnya, Mahfudhoh berada dalam habitatnya, sehingga lebih mudah dikenal ketimbang dirinya yang kader Muhammadyah, baik pada pilkada periode pertama atau kedua dia menjabat.

Bagi Anna, yang diusung PKB dan PDIP, berada di kalangan pesantren adalah hal yang biasa. Calon kelahiran Tuban itu justru berupaya mendekati kalangan masyarakat ”abangan” dengan kultur budaya lokal yang lekat dengan mereka yaitu seni tradisional ”Sindir” atau ”Tayub.”

Tidak heran jika dalam banyak pemberitaan media atau foto viral di media sosial, Anna sering tampil ngibing atau mbeso bersama penari dan penggemar tayub ini.

Salah seorang pendukung Anna pun berkomentar, ”Calon bupati sindiran ya biasa, calon kiai ya belajar tahlil,”kelakar anggota PKB, menanggapi Anna yang sering tampil dalam pagelaran tayub.

Sah sah saja kedua ‘Srikandi’ itu melakukan pendekatan untuk mendongkrak elektabilitas mereka. Begitu juga dengan massif-nya usaha kandidat Basuki yang juga sering hadir dalam acara acara pengajian.

Terkini ribuan penggemar Habib Syech yang mengguncang Masjid Al-Birru Pertiwi. Keberadaan wakil ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro ini di tengah-tengah Syechker ini bisa mendongkrak elektabilitas unruk mengejar ketertinggalan Mahfudhoh dan Anna.

Untuk pasangan Mulyo-Atine nyaris tak terdengar suaranya dalam gelaran event, kecuali marak di spanduk. Ada kemungkinan menunggu momentum kampanye massal pada saatnya nanti.

Dimaklumi, kampanye panjang di Pilkada ini membutuhkan dana besar untuk mengenalkan diri. Jika donatur tidak lancar maka sulit bisa memenuhi keinginan calon pemilih.

Mengandalkan program, masyarakat mengetahui bahwa kinerja kepala daerah itu ditentukan bersama DPRD. Apapun baiknya program jika tidak mendapat persetujuan Dewan tidak akan berhasil.

Adanya geb antara janji kampanye dengan implementasi setelah calon terpilih mengakibatkan mayoritas masyarakat berpikiran pragmatis. Apalagi menjelang puasa dan lebaran, mereka butuh ganti sarung dan baju baru.

Maka akan menambah kesibukan calon untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan karena masih ada lebaran yang dihadapi dan ”sarung sarung terbang,” jika benar itu menjadi salah satu variabel mendongkrak popukaritas, maka tim sukses perlu bekerja keras di bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri. Selamat berjuang.

Penulis: Redaktur senior dan pemerhati politik di Bojonegoro.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini