oleh

KH Yahya Staquf, Sosok Kandidat Ketua Umum PBNU

JakartaDetakpos.com-Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Lampung Oktober 2021. Wacana calon ketua umum sudah mulai bergulir dan bermunculan.

Salah satunya adalah Katib Aam Suriah KH Yahya Staquf (Gus Yahya Staquf), disebut sebut menjadi kandidat kuat menggantikan KH Said Aqil Siradj.

Mabroer Ms, mantan pengurus LAZIS PBNU menilai Gus Yahya Staquf adalah sosok pemimpin NU yang dibutuhkan saat ini.

“Era saat ini merupakan fase kemajuan teknologi informasi yang selalu dianggap “dunia”nya anak-anak muda,”ujar Mabroer MS, mantan pengurus PP GP Ansor dan DPP PKB di Jakarta, Sabtu, (27/3/21).

Jumlah generasi milenial di Indonesia cukup signifikan, lanjut dia. Diperkirakan mencapai 40% dari total populasi. Dengan  kata lain, 90 % dari jumlah itun adalah generasi muslim dan 45% di antaranya Insyaalah bercorak Nahdliyin.

Dari asumsi itulah, lanjut Mabroer, kehadiran Gus Yahya menjadi urgent karena sosoknya cukup adaptatif terhadap perkembangan generasi milenial.

Gus Yahyabl juga mempunyai akar tradisi yang kuat sebagai pengasuh pondok pesantren di Rembang bersama KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Itu menjadi syarat utama memimpin NU, bukan oleh politisi.

“Perbaruan dari modal sosial maupun modal akademik itulah NU ke depan membutuhkan imam yang bisa cepat membaca kebutuhan umat secara cepat dan tepat,””tandas Mabroer MS.

Dalam menjadikan NU sebagai menduniakan Islam rahmatan Lil alamin, Gus Yahya Staquf juga sudah diakui dunia Internasional.

Pada 26-29 Juni 2017, KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam Syuriyah PBNU yang juga Emissary GP Ansor untuk Dunia Islam, dan Adung Abdul Rochman, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor, berada di Washington DC dalam rangka mempromosikan Humanitarian Islam ke berbagai pihak strategis; pengambil kebijakan AS, tokoh-tokoh negarawan AS, lembaga think thank, lembaga interfaith, Dubes Afghanistan dan seterusnya.

Ikut mendampingi dalam agenda tersebut Charles Holland Taylor yang juga EmissaryGP Ansor untuk PBB, AS dan Eropa. Merespons dengan sangat positif. Mereka bahkan mengusulkan membuka kantor di Washington DC untuk menguatkan promosi Humanitarian Islam ini ke pengambil kebijakan dan kelompok strategis di AS dan diterimanya inspirasi gagasan dari Indonesia ini ke seluruh dunia.

Humanitarian Islam bisa dimaknai sebagai gerakan global yang didedikasikan untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan, perdamaian dunia dan harmoni peradaban yang terinspirasi oleh Islam rahmatan lil-‘alamin, yang dimanifestasikan dengan merekontekstualisasi ajaran Islam sesuai dengan realitas kekinian.

Humanitarian Islam tidak akan berusaha menjadi ideologi supremasis yang akan menaklukkan siapa pun, juga tidak datang untuk menghancurkan, dan oleh karenanya mencegah penyalahgunaan agama untuk mempromosikan kebencian, supremasi dan kekerasan sektarian.(d/2).

Editor: A Adib

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini