oleh

KPU Jelaskan Hoaks  ke Komisi II DPR RI

Jakarta, Detakpos– Memasuki awal tahun 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus diserang berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Mulai dari berita bohong (hoaks) tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos sampai batalnya penyampaian visi misi debat pilpres.

Isu-isu tersebut pun kemudian ditanyakan sejumlah anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) langsung kepada KPU saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) berlangsung.

Meluruskan informasi yang beredar, Ketua KPU, Arief Budiman menjelaskan satu per satu atas isu yang dewasa ini berkembang.

Diawali isu tentang tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos, yang menurut pria 44 tahun direspons dengan langsung melakukan pengecekan ke Kantor Bea dan Cukai di Tanjung Priok dan tindakan ini bukanlah sikap reaktif.

“KPU menganalisis betul apa yang harus diambil untuk menyikapi itu (isu tujuh kontainer). Itu bukan pertama kali yang ditujukan ke KPU di antara banyak berita bohong KPU merasa yang lain cukup dijawab dengan data dan fakta yang dimiliki KPU.

Dilansir hupmas kpu ri,
khusus hoax tujuh kontainer ini KPU merasa disudutkan bahkan KPU di-capture telah menyita satu kontainer.

“Ini sudah menuduh, ini menurut kami tuduhan serius dan kami bertindak bukan karena cuitan orang per orang dan kami memutuskan untuk melaporkan, kami bukan laporkan orang per orang tapi kami lapor kejadian,” tegas Arief di Ruang Rapat Komisi II, DPR, Jakarta, kemarin.

Isu berikutnya terkait pembatalan sosialisasi visi misi capres-cawapres. Arief memastikan lembaganya mengambil keputusan tersebut tidak berdasar pada tekanan pihak manapun akan tetapi KPU mengeluarkan putusan berdasarkan pertimbangan ketentuan undang-undang yang berlaku.

“Sejak awal pertemuan antar tim paslon KPU sudah katakan kalau ini mau dilaksanakan kita harus sepakat akan semua hal. Jadi sejak rapat pertama kita katakan ini bisa terlaksana kalau kita sepakat, pembahasan sampai empat kali rapat. kemudian masih ada ketidaksepakatan, seperti yang dikatakan di awal kalau tidak ada kesepakatan maka kita batalkan,” papar pria kelahiran Surabaya itu.

Arief pun menyayangkan serangan saat ini bukan hanya kepada lembaga yang dipimpinnya tetapi juga sudah menyerang individu.

“Misalnya saya disebut Taipan China, Soe Hok Djin dan seterusnya. Kemudian saya dibilang aneh suara terkecil tapi jadi ketua tapi gambar di sebelahnya bos Taipan China. Ini kan menyesatkan semua.,”

” Nah, informasi yang menyesatkan dan merugikan ini kami akan tegas, kami akan lawan,” tandasnya.(dib)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini