oleh

Mendedah Ideologi Rasis Zionis

0pini Oleh: H Adib Hambali (*)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, di Gedung Putih, Washington, Rabu (6/12/2017) waktu setempat. Melalui pernyataan tersebut, Trump juga mengumumkan rencana pemindahan Kedutaan Besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pernyataan Trump pun memantik raeksi penentangan dari dalam negei AS, maupun luar negeri, termasuk Indonesia, karena kebijakan itu sama dengan melempangkan jalan Israel yang ingin menguasai Palestina sejak dulu kala dari zaman ”bahula”.

Alkisah, berawal dari kegundahan hati Nabi Ibrahim AS yang muncul karena hingga usia senja belum juga dikarunia putra dari Sarah, istrinya yang dianggap mandul. ”Ya Tuhanku, anugrahkanlah (seorang anak) yang termasuk orang saleh’’.Demikian doanya Nabi Ibrahim AS. (As-Shafat Ayat 100).  

Mendengar rintihan doa suaminya, Sarah pun merasa iba dan meminta untuk menikahi Hajar. Ketika Hajar hamil, Sarah istri pertama Nabi Ibrahim AS, yang semula diduga mandul ternyata hamil pula.

Ketika itu muncul rasa cemburu karena dimadu, Sarah pun meminta suaminya menjauhkan Hajar darinya. Allah SWT membimbing Nabi Ibrahim menuju lembah tandus dan gersang, yaitu Makkah; daerah yang belum dihuni manusia satu pun saat itu.

Dari Hajar lahir Nabi Ismail. Nabi Ibrahim juga dikaruniai anak dari Sarah yang bernama Ishaq. Kemudian Nabi Ishaq dikaruniai anak, Nabi Yaqub, yang kemudian hari karena kebiasaan keluarga itu nomaden (berpindah-pindah dan dilakukan pada waktu malam) maka disebut Israel dan keturunannya dinamai Bani Israel.

Nabi Yaqub AS mempunyai dua istri dan 12 anak. Dari istri pertama lahir dua anak, Nabi Yusuf AS dan Benyamin, sedangkan dari istri kedua lahir 10 orang anak, salah satunya bernama Yehuza (asal kata Yahudi). Bibit konflik di Bani Israel mulai muncul saat itu ketika Nabi Yaqub dianggap lebih mencintai Nabi Yusuf daripada anak-anaknya yang lain.

Mereka pun bersepakat untuk melenyapkan Nabi Yusuf AS. (Surat Yusuf: Ayat 8 dan 9).Tapi Allah menyelamatkannya dan membawa ke Mesir, pusat peradaban waktu itu. Di sana Nabi Yusuf menjadi pemimpin dan terkenal karena berjasa mengatasi krisis ekonomi dan menyelamatkan rakyat Mesir dari ancaman bahaya kelaparan.

Keturunan Nabi Yaqub (Israel) berkembang di Mesir dan terbagi menjadi 12 suku. Dari keturunan Nabi Yaqub lahir Nabi Daud AS yang menjadi Raja Kerajaan Judea Samaria. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Nabi Sulaiman (935 SM) yang membawa ke zaman keemasan Bani Israel.

Jerusalem pun dibangun di dataran di atas bukit Zion dan menjadi pusat kota serta didirikan tempat ibadah megah. Orang Arab menyebutnya Haikal Sulaiman (Kuil Sulaiman, Solomon Temple), Al-Masjid Al-Aqsa, dan al-bait al-Maqdis.

Sulaiman AS digantikan putranya, Rahub’an. Saat itu  benih-benih perpecahan karena keluarga Israel lainnya mengangkat Yarub’an dan mulailah perpecahan berkembang ke ranah politik kekuasaan. Pada masa Nabi Musa AS, ada upaya mengembalikan orang-orang Israel ke Palestina. Namun tidak berhasil karena mereka membangkang dan mengkufuri anugrah Allah SWT.

Allah SWT juga menurunkan Nabi Isa AS untuk memberikan peringatan kepada kaum Yahudi (Bani Israel) agar hidup sesuai dengan ajaran Allah. Hasilnya sama karena mereka tetap ingkar, kufur atas nikmat Allah SWT. Demikian dinukil dari berbagai lieratur Islam.

Bangsa Israel melencengkan firman Allah untuk membangun satu propaganda ideologi politik baru: rasis zionis. Ideologi itu dibangun dengan mendasarkan pada firman bahwa kaumnya adalah bangsa pilihan dan Bani Israel lebih unggul dari manusia yang lain.

Lebih dari itu, kaum zionis merasa berhak melakukan kekejaman atas bangsa lain. Idiologi rasis-zionis ini masuk ke dalam agenda dunia pada akhir abad ke-19 oleh Theodor Herzl (1860-1904), Yahudi berkebangsaan Austria.

Herzl dan kelompoknya membuat propaganda menjadikan kaum Yahudi sebagai ras terpisah dari Eropa. Pemisahan ini tidak akan berhasil jika mereka masih hidup serumah dengan masyarakat Eropa. Karena itu, mereka bersikukuh membangun Tanah Air untuk kaum Yahudi.

Theodor Herzl, pendiri zionisme, mulanya memilih Uganda, tapi kemudian memilih Palestina yang dianggap Tanah Air kaum Yahudi dan tanah yang dijanjikan Tuhan. Inilah pangkal mula kenapa tanah Palestina terus dibanjiri air mata dan darah sampai saat ini, dan diperkirakan terus memakan korban menyusul ‘karpet merah” yang digelar Trump untuk Israel.(*)


*Wakil Rais Syuriah MWC NU Dander, Bojonegoro, Jatim. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini