oleh

Pilpres 2019 Bisa Diikuti Tiga Capres

JakartaDetakpos-Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengatakan, berdasarkan simulasi yang berkembang saat ini, ada tiga kandidat kuat yang akan mengikuti pemilihan presiden (pilpres) 2019.

Mereka yakni pasangan Joko Widodo-Budi Gunawan, Muhaimin Iskandar-Agus Harimurti Yudhoyono(AHY), kemudian Rizal Ramli-Gatot Nurmantyo. Jokowi-Budi Gunawan diperkirakan diusung lima parpol lama (Golkar, NasDem, Hanura, PPP, dan PDIP), dan dua parpol baru (Perindo dan PSI).

Sementara Cak Imin dan AHY dikabarkan akan diusung PKB, Demokrat, dan PAN. Kemudian pasangan Rizal-Ramli dan Gatot Nurmantyo akan diusung oleh Gerindra dan PKS. “Jika simulasi ini benar terjadi, Jokowi harus waspada.

Mengingat Pilkada DKI dimenangkan pasangan yang diusung oleh Gerindra dan PKS,” beber Fernando, Rabu (7/3). Selain itu, kata dosen Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Jakarta ini, Jokowi juga harus mengingat Pilpres 2004.

Saat itu, Megawati Soekarnoputri sebagai petahana yang diusung oleh PDIP, akhirnya kalah oleh pendatang baru yang diusung oleh Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. “Jangan abaikan Pilkada DKI yang lalu.

Jokowi harus memilih pendamping yang bisa memastikan kemenangannya di Pilpres 2019,” tegasnya. Jokowi perlu cermat dalam menentukan pendampingnya di Pilpres 2019 mendatang. Pasalnya, situasi seperti Pilkada DKI Jakarta besar kemungkinan dapat terulang pada Pilpres 2019.

“Jokowi perlu membaca kembali peta Pilkada DKI,” tambah Fernando.

Dia juga mengatakan, dengan munculnya Rizal Ramli yang telah mendeklarasikan sebagai Capres 2019 menunjukan pilpres akan diikuti oleh tiga pasang kandidat.

Sebelumnya, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengaku siap maju sebagai calon presiden pada pemilu 2019 mendatang. Banyak alasan yang dikemukakan Rizal mengapa dirinya memilih maju sebagai capres.

”Saya siap untuk memimpin Indonesia agar lebih baik, lebih adil dan lebih makmur,” katanya. Menurut Rizal, senjak mahasiswa hingga kurang lebih 40 tahun, dia terus berjuang agar Bangsa Indonesia lebih sejahtera. Berbagai idenya soal perbaikan tersebut telah dijelaskan terbuka.

”Banyak yang kemudian mengunakannya untuk bahan kampanye dan pencitraan, tetapi tidak pernah dilaksanakan. Akhirnya, kami memutuskan bahwa ide perbaikan tersebut harus dilaksanakan sendiri,” tegas Rizal.

Rizal yang pernah menjabat Menteri Koordinator bidang Perekonomian serta Menteri Keuangan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini mengenang kisah suksesnya.

Dia menyebut, hanya dalam waktu kekuasaan Gus Dur, pertumbuhan ekonomi melonjak dari minus 3 persen menjadi 4,5 persen.

Utang luar negeri berkurang 4,15 miliar dolar AS, ekspor naik 2 kali lipat, gaji PNS naik dua kali lipat atau 125 persen, dan gini index terendah sepanjang sejarah (0,31).(d2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini