oleh

Politik Sarkas Grace Natalie

Jakarta-Detakpos- Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie belum lama ini memberikan tiga “Award Kebohongan” pada salah Satu pasangan capres -cawapres dan seorang pendukungnya.

Reaksi dari berbagai pihak pun muncul, tentu saja para pendukung calon lawan bergembira atas award ini.

Dan sebaliknya, pendukung rival ada yang geram, tapi juga ada yang menanggapi dengan santai bahkan membalas dengan akan mendirikan simbol kebohongan.

Pengamat polotik Bin Firman Tresnadi mengatakan, apa yang dilakukan PSI ini adalah praktik politik sarkas.

Direktur Eksekutif IDM itumengatakan, politik sarkas adalah sebuah upaya untuk mencemooh, menyakiti lawan politik dan membuat framing kepada masyarakat.

Dalam kasus PSI Award, menurut Bim Firman, ini tentu bertujuan ketiga tokoh tersebut sebagai sumber kebohongan.

Padahal apa yang disampaikan ketiga tokoh tersebut masih debatebel dan belum teruji bahwa mereka berbohong.

PSI tidak sedang bersungguh-sungguh memerangi kebohongan. Dikatakan, award yang mereka berikan sekadar untuk memojokkan lawan politik sekaligus menarik dukungan Lawanda, agar memilih PSI dengan menunjukan bahwa cara politik mereka berbeda dengan partai-partai pendukung salah pasangan tersebut.

“Bahwa merekalah garda terdepan pembela pasangan lebih kreatif dan lebih inovatif dibandingkan partai-partai lainnya,tutur Firman.

PSI memang membutuhkan manuver-manuver politik yang menarik perhatian masyarakat untuk dapat lolos ke senayan.

Jika PSI bersungguh-sungguh sedang memerangi kebohongan, seharusnya capres yang didukung yang mendapatkan award tersebut.

“Karena telah kita ketahui bersama, kebohongan-kebohongan begitu kasat mata. Mulai dari kebohongan kecil, seperti tidak pernah memegang bola basket selama 37 tahun atau menggunakan sepeda tidak memakai rem sampai kebohongan besar, penyelesaian kasus HAM, kasus impor pangan.

Bangsa ini sedang menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari ancaman bencana alam, bonus demografi sampai perang dagang. Karenanya jauh lebih penting mengedepankan program dan solusi terhadap tantangan-tantangan tersebut dari pada menyeret rakyat untuk membenci tokoh-tokoh yang dianggap lawan politik.

“Tinggalkan politik sarkasmu PSI! Sebelum rakyat semakin terpecah karena kebencian yang terus kau pupuk.pungkas Bin Firman.(dib)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini