oleh

Poros Baru Bisa Ancam Petahana


Analisis Berita:

Oleh H Adib Hambali, Redaktur Senior di Bojonegoro.

 

DALAM Rumus politik perekatnya adalah kepentingan. Jadi poros baru lahir atau tidak adalah dari terakomodasi atau tidak keinginan parpol yang menyodorkan calon wakil presiden kepada calon presiden.

Begitu juga pada Pemilu 2019, diprediksi bakal kembali menghadapkan Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Dari cawapres yang tidak dipilih Jokowi atau Prabowo akan lahir poros baru.

Jika muncul poros baru atau ketiga, justru poros baru inilah diperkirakan bakal menjadi penantang terkuat petahana.

Jokowi sudah hampir pasti melenggang lagi ke ajang Pilpres 2019 dengan dukungan lima partai politik yang punya kursi di DPR, yakni PDIP, NasDem, Golkar, PPP, dan Hanura. Sebetulnya ada dua partai baru lagi yang mendukung Jokowi, yakni PSI dan Perindo, namun belum memiliki kursi di DPR.

Sementara Gerindra, dipastikan bakal mengusung lagi Ketua Umum Prabowo Subianto. Walau belum resmi, Waketum Gerindra Fadli Zon sudah memastikan partainya akan bergandengan dengan PKS.Benar,

PKS hingga saat ini belum mengamini apakah akan mendukung pencapresan Prabowo. PKS justru melontarkan sembilan nama kader untuk jadi capres. Sementara itu, poros ketiga yang mungkin akan terbentuk adalah PAN, PKB, dan Partai Demokrat.

Elite ketiga partai sudah menjalin komunikasi intensif. Bahkan para elite partai telah menggelar pertemuan, Kamis (8/3).

Berdasar hitungan kekuatan dan atruran pencalonan, perlu 20% kursi DPR untuk mengusung pasangan capres-cawapres di Pemilu 2019. Ini berarti butuh 112 kursi.

Poros pendukung Jokowi punya kursi paling banyak untuk tiket capres-cawapres. Jokowi didukung oleh PDIP (109 kursi/19,4% kursi DPR), NasDem (36 kursi/6,4% kursi DPR), Golkar (91 kursi/16,2% kursi DPR), PPP (39 kursi/7% kursi DPR), dan Hanura (16 kursi/2,9% kursi DPR). Totalnya adalah 291 kursi atau 52% kursi di DPR.

Poros berikutnya, pendukung Prabowo Subianto yang digawangi oleh Gerindra yang memiliki 73 kursi atau 13% kursi DPR. Jika PKS dimasukkan, maka angka bisa ditambah dengan 40 kursi atau 7,1% kursi DPR. Total, mereka punya 20,1% atau 113 kursi di DPR.

Selanjutnya, adalah poros ketiga yang mungkin dibentuk Partai Demokrat, PAN, dan PKB. Demokrat saat ini memiliki 61 kursi atau 10,9% kursi DPR, kemudian PAN punya 48 kursi atau 8,6% kursi DPR. Jumlah ini memang masih kurang untuk mengusung capres-cawapres. Namun jika ditambah PKB yang memiliki 47 kursi atau 8,4% kursi DPR, jumlahnya menjadi 156 kursi atau 27,9%

.Dengan demikian, poros ketika secara persentase menjadi calon penantang terkuat petahana, mengalahkan rival Jokowi pada Pilpres 2014.Komunikasi intensif tiga elite partai politik juga dibenarkan oleh Demokrat.

Bahkan, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Rachlan Nasidik mengungkapkan, pihaknya lebih tertarik membuat poros baru daripada bergabung dengan koalisi partai politik pendukung Joko Widodo atau pendukung Prabowo dalam Pilpres 2019.

Demokrat lebih memilih menjajaki pembentukan poros baru dengan membuka komunikasi dengan PKB dan PAN. ”Saya lebih suka pilihan poros ketiga. Itu lebih mewakili hasrat kita pada keadilan,” ujar Rachlan.Sekjen DPPPartai Demokrat, Hinca Panjaitan mengakui, pihaknya telah bertemu dan berkomunikasi dengan PAN serta PKB untuk membahas wacana poros ketiga di Pilpres 2019.

Tujuannya agar wacana ini dapat membuka peluang luas bagi calon lain di luar Jokowi dan Prabowo.Tentu,  ini terbuka untuk siapa saja. Poinnya, semakin banyak pilihan, semakin bagus. Masyarakat punya pilihan yang baik.Partainya siapa saja boleh. Hari ini memang baru tiga,.

Pertemuan tiga partai akan berlanjut dan dilaksanakan secara simultan serta bergiliran. Ini tidak berhenti, ini akan lanjut lagi. Minggu depan tuan rumahnya PAN. Hari ini Demokrat. Habis PAN, tuan rumah PKB. Tentu di pertemuan berikut partai lain ikut.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini