Muktamar NU ke 34, Dukungan Gus Yahya di Jatim Menguat

SurabayaDetakpos.com-Peluang KH Yahya Staquf (Gus Yahya) menjadi ketua umum PBNU semakin menguat, menyusul dukungan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur yang juga Ketua IGGI ( Ikatan Gus gus Indonesia ) Dr KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur).

Dia mendukung regerasi di PBNU pada Muktamar NU ke-34 mendatang. Dia pun menjagokan KH Yahya Staquf untuk menggantikan KH Said Aqil Siradj.

Gus Fahrur semula menjagokan dua kandidat yaitu Gus Yahya dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Namun Wali Kota Pasuruan yang dijagokan, menurutnya justru mendukung Gus Yahya.

“Gus Ipul mendukung Gus Yahya,”tulis Gus Fahrur via WA, Kamis malam (16/9/2021)

Lebih jauh dia mendukung agar Muktamar NU ke-34 segera digelar selambat lambatnya pada bulan November 2021 mendatang.

Gus Fahrur menilai penundaan muktamar selama setahun sudah lebih dari cukup dan tidak boleh lagi ditunda dengan alasan apapun , karena pelaksaaan muktamar sangat urgen diperlukan untuk regenerasi dan proses kaderisasi agar roda organisasi terus berjalan , adapun pelaksananya bisa dilakukan secara luring atau hibryd sesuai aturan yang diperbolehkan pemerintah dengan tetap menjaga protokol kesehatan .

Menurut Gus Fahrur, beberapa ketua PCNU di Jatim telah berkumpul dan bersepakat untuk mengusulkan pelaksanaan muktamar akhir tahun ini karena apabila muktamar ditunda lagi akan membuat preseden buruk ke semua level dibawahnya sehingga mereka ikut menunda agenda konfercab atau konferwil yang membuat kaderisasi organisasi terhambat .

Selanjutnya Gus Fahrur mendukung dua kader muda NU Gus Yahya ( KH Yahya Kholil Staquf ) dan Gus Ipul untuk tampil meneruskan kepemimpinan Prof Dr KH Said Aqil Siradj yang dinilai telah banyak menorehkan kesuksesan di berbagai bidang.

“Kiai Said berhasil meneguhkan jati diri aswaja dan kemajuan dalam bidang pendidikan dengan pendirian universitas NU di seluruh Indonesia, serta kemajuan lainnya yang membuat NU disegani dan bisa menjadi penentu serta pengayom,” kata Ketua IGGI KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), dalam keterangan persnya, Rabu 15 September 2021.

Pengasuh pesantren An Nur I Bululawang, Malang ini mengatakan, seorang pemimpin yang baik juga harus mampu melahirkan pemimpin baru dengan melakukan regenerasi yang baik. Regenerasi di tubuh organisasi bisa meneladani cara Nabi Muhammad SAW yang telah sukses melahirkan pemimpin-pemimpin hebat pasca Nabi wafat.

“Proses kaderisasi pucuk kepemimpinan NU di masa lalu dapat menjadi contoh yang bagus , ketika Gus Dur berakhir digantikan almarhum Dr KH Hasyim Muzadi dan setelahnya dilanjutkan Prof. KH Said Agil Siradj,” ujarnya.

Ada pelajaran yang bisa dipetik ketika Gus Dur memimpin, yakni hampir tidak terlihat tokoh sekaliber Gus Dur. Seakan tidak ada yang layak menggantikannya.

“Namun ternyata tampil KH Hasyim Muzadi yang sukses memimpin NU dengan sangat baik, santun dan sejuk bahkan bisa bermain di kancah Internasional sehingga terbentuk jaringan PCINU internasional di berbagai negara dan melahirkan ICIS : International Conference of Islamic Scholar (Konfrensi sarjana Islam internasional),” kata Gus Fahrur.

Setelah dua periode menjabat ketum PBNU KH Hasyim Muzadi tidak berkenan maju kembali untuk ketiga kalinya dan tampillah Prof Dr KH Said Aqil Siradj.

“Almarhum Prof Dr KH Tholchah Hasan mengatakan waktu dua periode sudah sangat cukup untuk melakukan kaderisasi dan melahirkan pemimpin baru. IGGI mengharapkan tampil pemimpin muda NU dalam muktamar mendatang yang berkomitmen meneguhkan NU sebagai ormas Islam berfaham aswaja yang moderat, toleran, dan selalu memperkuat tiga ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia),” kata Gus Fahrur yang juga wakil Sekjend MUI pusat ini.(d/2).

Editor: A Adib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *