oleh

Lone Wolf

Oleh : A Adib Hambali

LONE WOLF. Itulah istilah yang muncul pasca-insiden di Mabes Polri, Rabu (31/3/218). Lone wolf adalah teroris aktor tunggal (‘serigala’ tunggal) yang mempersiapkan dan melakukan tindakan kekerasan sendirian, tanpa bantuan material dari kelompok mana pun.

Adalah Zakiah Aini, lajang berusia 25 tahun yang tidak selesai kuliah, menjadi  fenomena Lone Wolf Terrorism. Ia masuk ke Mabes Polri sendirian. Lalu Ia membuat gerakan menembak, dengan pistol yang diduga pistol gas dengan peluru bulat dari plastik atau biji besi.

Polisi pun membalas hingga terkapar. Tewas. Tak ada “lawan” yang berhasil dilukai Zakiah!

Generasi lama terorisme digerakkan oleh organisasi besar terpusat. Dalam garis komando, organisasi seperti Al Qaedah, ISIS, atau di Indonesia: Jemaah Islamiyah, Jemaah Ansharut Daulah (JAD), menggerakkan jaringan, melakukan aksi serangan masif, hingga bom bunuh diri.

Namun organisasi besar itu kini dihancurkan. Mereka diawasi super ketat. Banyak pimpinan utama mati dibunuh, atau terbunuh, juga dipenjarakan.

“Kini datanglah generasi baru yang acap disebut Lone Wolf Terrorism. Coraknya berbeda. Cara beroperasinya juga beda.,” Demikian catatan peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

lone wolf merupakan strategi mutakhir di kalangan kelompok dan jaringan teroris. Strategi tersebut memungkinkan siapa saja menjadi aktor teroris.

Dua peristiwa teror terakhir di Makassar dan di Jakarta menunjukkan bahwa kelompok pengusung ideologi teror masih eksis di Indonesia, termasuk dengan menggunakan strategi lone wolf.

Ketua SETARA Institute Hendardi menyebut Jaringan Jemaah Ansharud Daulah (JAD) adalah salah satu jaringan terorisme yang paling menonjol mengadopsi strategi lone wolf dalam menjalankan tindakan teror.

JAD mengkapitalisasi pesatnya perkembangan teknologi informasi dan memanfaatkannya secara efektif untuk melakukan proses radikalisasi di ruang publik dengan menyasar kelompok-kelompok spesifik, yang memiliki potensi transformasi secara cepat untuk menjadi intoleran aktif, radikal, lalu jihadis dan melakukan amaliyah teror.

Eksistensi kelompok teroris ini dimungkinkan karena mengendurnya kepekaan dan melemahnya partisipasi masyarakat. Di sisi lain, berkembang upaya untuk mendelegitimasi tindakan polisional oleh institusi-institusi keamanan negara dalam menangani terorisme.

Hal itu mendorong masyarakat menjadi permisif, karena berkembang persepsi bahwa terorisme adalah konspirasi atau rekayasa pihak-pihak tertentu.

Padahal, dua aksi terakhir, misalnya, menunjukkan betapa jejaring itu nyata dan keberadaan mereka membahayakan jiwa warga masyarakat

Demi melindungi kepentingan publik dan keselamatan warga, tindakan polisional yang terukur dan akuntabel, untuk melumpuhkan teroris dan jaringannya dibenarkan, (permissible) dalam perpsektif hukum dan hak asasi manusia.

Namun, Hendardi melihat penyesatan opini yang mendeligitimasi tindakan koersif negara dalam menangani aksi terorisme masih terus berlangsung.

Hal itu jelas menjadi kampanye distortif atas kinerja pemberantasan terorisme di satu sisi, dan semakin memperluas ruang radikalisasi publik dan memperkuat sikap permisif warga, di sisi lain.

Padahal, ruang-ruang publik yang permisif terhadap intoleransi dan radikalisme merupakan enabling environment atau lingkungan yang membuat dan/ mempercepat tumbuhnya terorisme dan rekonsolidasi jaringan dan sel-sel tidur terorisne

Terakhir, terorisme merupakan musuh bersama. Oleh karena itu, mobilisasi sumber daya dan dukungan bersama jelas dibutuhkan. Penanganan terorisme, mulai dari pencegahan hingga penindakan yang bersifat terukur dan akuntabel, harus dilakukan secara simultan untuk menjamin keamanan dan keselamatan seluruh warga negara.

Masyarakat mesti berpartisipasi dalam pencegahan dan aparatur negara harus melakukan tindakan hukum yang akuntabel dan terukur dalam bentuk penindakan. Sinergi demikian akan membentuk imunitas kolektif dari penyebaran terorisme melalui saluran apapun, termasuk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, seperti media sosial dan internet.*

*Redaktur Senior Detakpos.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini