oleh

Ngeri-Ngeri Sedap PPDB (bagian 2, habis)

 

Oleh : Tonny Ade Irawan (*

SECARA resmi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk jenjang SMP sudah tutup. Posisi siapa yang diterima dan di mana, sudah jelas. Tinggal menunggu pengumuman resmi pada 12 Juni 2019.

“Ngeri ngeri-nya” sudah terasa dan “sedapnya” juga telah dirasakan, baik oleh peserta didik, orang tua juga pihak sekolah.

Ngeri bagi mereka yang tidak diterima di sekolah yang dituju meski pun merasa mampu. Sedap bagi mereka yang kemampuannya pas-pasan tapi karena jarak mereka diterima di sekolah favorit.

Ngeri bagi orang tua yang berharap anaknya diterima di sekolah favorit karena jaraknya menjadi gagal. Sebaliknya sedap bagi orang tua yang anaknya diterima di sekolah yang selama ini dianggap favorit meskipun tahu kemampuan anaknya pas pasan.

Sekarang perasaan mereka tinggal ngeri atau sedap jika dibandingkan saat pendaftaraan selama beberapa hari yang bercampur menjadi ngeri ngeri sedap.

Perasaan ngeri ngeri sedap itu kini berpindah ke sekolah sekolah yang usai menggelar PPDB. Sebab sejumlah sekolah yang selama ini menjadi favorit dan dianggap unggulan harus menerima kenyataan.

Bahkan menjadi tantangan yang ngeri-ngeri sedap bagi sekolah yang favorit dan unggulan untuk mempertahankan status atau gelar sebagai sekolah papan atas.

Penjelasannya, saat PPDB masih mengunakan hasil Nilai Ujian Nasional atau NUN, maka sekolah favorit atau unggulan akan menjaring siswa dengan nilai tertinggi berdasarkan rangking atau pagu sekolah.

Termasuk saat menggunakan gabungan NUN dan hasil tes skolastik pada PPDB sebelumnya. Sekolah tersebut juga masih akan menjaring siswa dengan nilai tinggi.

Tentu saja dengan nilai NUN atau tes skolastik yang tinggi potensi siswa yang terjaring sangat amat potensial dibandingkan rangking yang di bawah.

Dan hal ini membuat tugas sekolah, yaitu guru menjadi lebih mudah. Ibaratnya mereka yang masuk adalah anak yang kemampuan baik sehingga mengarahkan mereka pun lebih mudah menuju kualitas yang di inginkan.

Dengan demikian untuk mempertahankan sebagai sekolah favorit atau unggulan lebih mudah karena setiap tahun mendapatkan siswa yang potensial.

Namun dengan sistim PPDB 2019 yang menerapkan zonasi, maka menjadi tantangan tersenditi bagi sekolah favorit atau unggulan untuk mempertahankan gelar. Sebab murid yang terjaring bukan berdasarkan hasil NUN atau hasil tes skolastik. Tapi berdasarkaan kedekatan jarak dari rumah ke sekolah.

Apalagi hasil NUN sampai dengan penutupan pendaftaran masih belum diketahui, sehingga potensi siswa yang terjaring dalam sistim zonasi belum diketahui sama sekali. Kenyataan nilai NUN baru akan diketahuai 12 Juni nanti saat pengumuman kelulusan SD.

Ini yang menjadikan sekolah favorit atau unggulan menjadi ngeri ngeri sedap.
Karena yang terjaring dalam sistim zonasi belum tentu nilai NUN-nya tinggi. Bisa jadi mereka yang terjaring nilainya di bawah rata-rata alias rendah.

Ibaratnya, mereka yang terjaring ada yang sudah bisa berjalan atau baru belajar berjalan, bahkan sama sekali belum bisa berjalan.

Dan ini menjadikan tantangan sekolah, dalam hal ini guru agar status atau gelar sekolah unggulan bisa dipertahankan. Dan kualitas sekolah atau guru di sekolah unggulan menjadi pertaruhan dan akan bisa dilihat satu atau dua tahun ke depan paska PPDB sistim zonasi. Benar benar ngeri ngeri sedap untuk sekolah dalam hal ini khususnya guru.
Menyandang sekolah unggulan memang tidak mudah.

Kepercayaan dan pengakuan masyarakat adalah yang utama. Tentu saja dukungan sarana dan prasarana harus mumpuni. Termasuk kualitas tenaga pendidik. Dan yang paling penting adalah output yang dihasilkan dalam hal ini peserta didik. Ini menjadi tantangan tersendiri yang benar benar ngeri ngeri sedap bagi sekolah.

*)penulis adalah pemerhati masalah sosial

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini