NOBEL SASTRA 2023 UNTUK PENULIS EROPA DENGAN BAHASA LOKAL: JON OLAV FOSSE

Ekspresi Data Denny JA

“Menulis adalah caraku untuk bertahan hidup. Dengan menulis aku bisa keluar dari berbagai kegelisahan batinku, dan pilihan-pilihan hidup yang sulit.”

Ini kutipan dari Jon Fosse, seorang penulis Norwegia yang kini di tahun 2023 mendapatkan hadiah Nobel untuk sastra. Mengapa Fosse yang mendapatkan nobel ini? Apa keunikan dari karyanya?

Jon Fosse lahir di Swedia, tahun 1959. Ia sudah menulis lebih dari 40 karya, baik novel, drama, puisi, dengan corak lintas genre. Ia sudah menulis sejak umur 12 tahun.

Tapi yang unik dan istimewa pada Fosse adalah sejak mahasiswa, ia menuliskan karyanya dalam bahasa lokal, salah satu bahasa Swedia. Bahkan di Swedia, bahasa ini hanya digunakan sehari- hari oleh 10% populasi di sana.

Kemudian, datanglah itu para penerbit luar negeri yang menerjemahkannya ke dalam aneka bahasa, terutama bahasa Inggris.

Aneka pengalaman hidup Fosse ikut memberi warna karya-karyanya. Antara lain, ia pernah mengalami pengalaman hampir mati ketika usia 7 tahun, karena kecelakaan yang parah.

Pengalaman menuju kematian inilah yang acap kali menghantuinya, memberikan satu coral batin yang reflektif dan pekat padanya. Justru pengalaman kematian ini, membuat karyanya terasa meditatif, penuh renungan hidup yang mendalam.

Di masa muda, pun ia pernah menjadi seorang pemberontak, seorang hipies. Ia melawan berbagai kemapanan yang ada.

Saat itu, Fosse mencari makna hidup dari berbagai hal-hal alternatif. Lalu ia sekolah perbandingan sastra, hingga tingkat S2. Sekolah formal sastra ini ikut memberikannya skill menulis dan perspektif yang lebih filosofis tentang bagaimana cara mengungkapkan kegelisahan batin.

Ia menjadi konsultan untuk menerjemahkan Bible ke bahasa Swedia, karena memang ia menguasai bahasa ini secara mendalam.

Namun perjumpaan yang intens pada Bible membuatnya pun berpindah lagi, dari seorang hipies, seorang yang memberontak, seorang yang ateis, yang anarkis menjadi seorang penganut Katolik.

Salah satu karyanya yang banyak dikutip berjudul Septology, terbit tahun 2022. Novel ini berkisah soal seorang pelukis tua yang ditinggal mati oleh istri yang sangat dicintainya.

Setelah itu, hari-harinya hanya dipenuhi oleh memori kesedihan, hanya dihantui oleh bayangan istrinya. Untuk keluar dari kesedihan itu, setiap malam ia keluyuran ke sana kemari, di kota itu tanpa tujuan, hanya untuk mengisi kekosongan hatinya.

Kemudian datanglah seorang gadis muda yang mencoba memberinya harapan, memberinya kisah cinta yang baru. Tapi apa yang terjadi ternyata lukanya di masa lalu, traumanya di masa lalu mengalahkan aneka pencarian-pencarian makna hidup.

Ia pun kembali sengsara karena begitu kuat memori masa lalu menghantuinya. Pembaca tentu dapat menafsir kisah ini secara beragam. Misalnya luka akibat hilangnya hal yang kita cintai (bukan hanya istri) tak akan disembuhkan oleh pencarian makna hidup apapun.

Atau lebih jauh lagi, ini renungan tentang apa yang membuat kita seperti sekarang ini. Mengapa corak hidup kita seperti ini, tidak seperti itu?

Apa yang unik dari Fosse, sehingga ia membuat memenangkan Nobel? Ia menggali dan menulis berbagai fiksinya, dengan bahasa lokal, bahasa daerahnya, konsisten selama 40 tahun. Ia memakai bahasa Nynorsk”, atau juga disebut New Norwegian.

Bahasa lokal yang ia pilih itu bahasa yang kaya dengan tradisi setempat, yang sangat puitik, dan sangat minimalis. Dengan bahasa lokal itu, ia bisa mengungkapkan aneka lekak- lekuk batinnya.

Dengan bahasa lokal itu, ia juga konsisten menuliskan kisah-kisah orang biasa, yang mencoba memberi arti bagi hidupnya. Ia mampu menyatakan apa yang kadang tak terkatakan dalam hidup. Segala hal itulah kemudian ia padukan menjadi satu inovasi dalam penulisan

Dalam bahasa komite Nobel, ia disebut melakukan “innovative plays and prose which give voice to the unsayable”

Fosse sendiri menyatakan kaget akhirnya memenangkan Nobel Sastra. Selama 10 tahun, ia mendengar namanya selalu dicalonkan, dan baru sekarang berhasil.

Tentu yang membuat karya Fosse meluas, dipentaskan publik dalam teater, karena karyanya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan 40 bahasa lainnya.

Sudah lebih dari 120 tahun Nobel memberikan hadiah sastra, sejak 1901. Tapi hingga kali ini, belum ada hadiah nobel sastra, yang mampir ke Indonesia. Bahkan belum belum ada yang mampir ke Asa Tenggara. Apa yang salah?***

**Transkripsi yang dilengkapi dari Video EKSPRESI DATA Denny JA (9/10/2023)

*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *