oleh

Ganjil-Genap, Desember Diberlakukan

JakartaDetakpos-PT Jasa Marga (Persero) Tbk., menerapkan empat strategi untuk mengurai kepadatan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek). Menjadi salah satu jalur transportasi strategis, beban lalu lintas di Jalan Tol Japek telah melebihi _V/C Ratio_.

Tambah lagi, terdapat beberapa Proyek Strategis Nasional yang pembangunannya bersamaan di sekitar Jalan Tol Japek eksisting, seperti Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated, Light Rail Transport (LRT) Jakarta-Bekasi Timur, kereta cepat Jakarta-Bandung, Jalan Tol JORR II Cibitung – Cilincing dan Cibitung – Cimanggis. Akibatnya, sering terjadi kepadatan kendaraan di jalan tol tersebut.

Saat ini Jasa Marga telah menerapkan strategi untuk mengatasi kepadatan di Jalan Tol Japek berupa manajemen rekayasa lalu lintas, penindakan kendaraan Over Dimensi dan Over Load_ (ODOL), pengawasan terhadap kendaraan truk di Ruas Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) E2 (Cikunir-Cakung), dan manajemen proyek.

Namun untuk mengintensifkan implementasi di lapangan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekretaris Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hindro Surahmat, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ Kemenhub Karlo Manik, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna, Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani, Direktur Pengembangan Adrian Priohutomo, Direktur Utama PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek Djoko Dwijono, General Manager Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Raddy R Lukman beserta _stakeholder_ proyek di koridor Japek menggelar rapat koordinasi bertempat di Grand Dhika-Bekasi, Selasa, kemarin.

Karlo Manik mengungkapkan sosialisasi pemberlakuan kebijakan ganjil-genap di Gerbang Tol (GT) Tambun saat ini intensif dilakukan hingga akhir November.

Selain itu, dari BPTJ juga telah menyiapkan tambahan 13 unit bis bagi pengguna jalan tol yang akan beralih ke transportasi publik karena perluasan wilayah pemberlakuan ganjil genap di GT Tambun.

Selain pemberlakuan kebijakan ganjil genap di Jalan Tol Japek, Budi Karya Sumadi menekankan penertiban kendaraan yang terindikasi ODOL untuk tidak masuk ke jalan tol atau dari awal telah direncanakan untuk kendaraannya tidak terindikasi ODOL, apabila dipaksakan akan ditilang di jalan tol. “Penjelasannya, bukan mereka (truk terindikasi ODOL) tidak boleh masuk. Untuk kondisi critical seperti ini, tolong dihargai hak-hak pengguna jalan tol lain,” tegas Budi

Budi juga menekankan bahwa  stakeholder proyek juga harus menghitung, bahwa kegiatan konstruksi tidak mengakibatkan kemacetan yang signifikan, “Sebagai contoh KCIC, jangan berkegiatan di sini dulu, di tempat yang lain. LRT juga, juga ada satu kegiatan di Km 14 di Kali Bekasi, saya minta ditunda untuk berapa bulan ke depan. Kepada Jasa Marga yang sekarang ini waktunya ketat sekali ya, sekarang 57%, kita ingin (sebelum) Lebaran selesai, itu pun saya mau tahu detail apa yang dilakukan. Apakah memang harus prioritas dikerjakan sekarang atau waktunya lain atau ada suatu rekayasa konstruksi yang lebih solve terhadap lalu lintas, apakah cara mengkonstruksi atau cara ruang-ruang pembatasan lebih lebar.”

Sejalan dengan penjelasan Budi Karya Sumadi, Desi Arryani mengungkapkan bahwa di koridor Jakarta-Cikampek sedang ada proyek bergerak sekaligus dalam waktu bersama. Salah satunya Jalan Tol Japek II Elevated yang tengah dikejar pembangunannya supaya dapat beroperasi fungsional saat lebaran tahun 2019.

Selain itu, manfaat Jalan Tol Trans Jawa dari Jakarta-Grati akan lebih maksimal jika Jalan Tol Japek II Elevated juga selesai.

“Kami akan lebih banyak lagi berkoordinasi lagi dengan Dinas Perhubungan, BPTJ, Kepolisian, supaya pengaturan dari beberapa proyek ini dan pengaturan dari kami sendiri sebagai pelaksana dari Jakarta-Cikampek Elevated jauh lebih efektif,” ujar Desi.

Desi juga menekankan pengguna jalan tol dalam memilih waktu perjalanan, mengingat _window time_ secara umum yang digunakan dalam pengerjaan konstruksi yaitu antara pukul 22.00-05.00 WIB. ” Jangan sampai ada persepsi kalau mau lewat Jakarta-Cikampek mendingan jalan malam.

Sebaliknya, justru jalan malam itulah konstruksi sedang banyaknya bergerak dan bergeraknya frontal. Ada titik-titik pengangkatan _steel box girder_ di empat titik sekaligus, ada titik-titik pengecoran mungkin di tiga titik sekaligus. Sehingga, jangan pernah ada persepsi lewat Jakarta-Cikampek malam saja, pasti sepi,” imbuh Desi.

Dalam kesempatan yang sama, Herry Trisaputra Zuna juga menyampaikan bahwa Jalan Tol Japek tidak lepas dari aspek supply_ dan demand. Dari sisi _suply_ kondisinya seperti itu dan sehari-harinya macet, “Kami imbau kepada pengguna jalan tol, kita juga harus lebih bijak dengan kondisi tadi. Malam adalah waktu kerjanya bagi proyek sehingga kita harus memikirkan rute yang lain juga moda yang lain.”

Sebagai penutup, Hindro Surahmat mengimbau pengguna jalan untuk dapat menggunakan bis yang telah disediakan sebagai kompensasi pemberlakuan kebijakan ganjil genap di jalan tol. “Saat ini masa sosialisasi kebijakan ganjil genap di GT Tambun hingga akhir bulan November. Nanti awal bulan Desember kita berlakukan kebijakan ganjil genap di GT Tambun.”(dib)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detakpos Terkini