YLKI: Tidak Logis Pemerintah Naikkan TDL Listrik

 

JakartaDetakpos-Tarif listrik nonsubsidi bisa naik sesuai dengan formulasi penyesuaian. Hal itu terkait skema baru memasukkan harga batu bara acuan dalam penetapan tarif dasar listrik. 

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyatakan tidak mempermasalahkan, bahkan lebih bagus memasukkan komponen batubara yang sangat dominan. 

Tapi, menurut Tulus, pemerintah harus fair jangan menggunakan harga batu bara internasional yang mengakibatkan tarif dasar listrik naik, karena Indonesia pengekspor batu bara.

Tulus menilai itu Ide bagus karena memang komponen batubara sangat dominan di kelistrikan, sedangkan komponen minyak makin kecil. 

Pemerintah harus jujur, jangan menggunakan patokan harga batu bara internasional. Indobesia itu negara pengekspor batu bara terbesar di dunia. 

”Masak harganya ikut harga internasional untuk menentukan harga listrik. Kalau untuk ekspor boleh harga internasional,”ujar Tulus dihubungi Selasa (30/1).

Sebelumnya, Direktur Jenderal KetenagalistrikanKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Andy Noorsaman Someng mengungkap tentang formulasi baru akan disusun lagi jika memang ada faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual listrik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mempertimbangkan skema baru untuk memasukkan harga batu bara acuan dalam penetapan tarif dasar listrik. Pertimbangan tersebut didasari oleh porsi penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik masih menjadi tumpuan hingga 2026 nanti.

“Akan dicoba untuk reformulasi lagi formula penetapan tarif listrik; bagaimana kalau harga batu bara masuk, karena pembangkit kita itu 60% energi primernya batu bara. Hingga 2026 masih dominan pakai batu bara, karena harganya lebih kompetitif; namun pembangkitnya juga harus yang teknologinya lebih ramah lingkungan,” ujar Jonan

Dengan harga nasional, menurut Tulus,  tidak akan membuat tarif listrik naik. Asal pemerintah menentukan pagu harga batu bara sendiri.

Tulus mengatakan kalau harga minyak wajar mengikuti harga internasional karena Indobesia negara importir.

” Lha kalau batu bara Kita kan eksportir terbesar di dunia. Nggak logis kalau pakai pagu harga internasional,”tandas tulus.

”Ya. Pagu nasional bukan pagu internasional ya. Kalau pakai pagu internasional itu nggak fair namanya,”tambah dia.(d2)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *